Gambaran Ekonomi Iran Usai Digempur AS, Harga Roti Melonjak 140% dan Ekspor Anjlok 70%

2 hours ago 11

Liputan6.com, Jakarta - Perang antara Iran melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel semakin memperburuk kondisi ekonomi Iran yang sebelumnya sudah rapuh. Konflik ini mendorong ekonomi negara tersebut ke jurang penurunan tajam.

Strategi utama Iran dalam konflik ini adalah menyerang sektor ekonomi lawan, termasuk infrastruktur energi negara tetangga serta melakukan blokade di Selat Hormuz—jalur vital yang sebelumnya dilalui sekitar 20% pasokan minyak dan gas dunia.

Namun, langkah tersebut justru berbalik menekan ekonomi Iran sendiri.

Dikutip dari CNBC, Kamis (23/4/2026), sebelum konflik, Iran sudah menghadapi tekanan berat akibat sanksi internasional. Inflasi bahkan telah melampaui 50% sepanjang 2025. Mata uangnya, rial, juga kehilangan sekitar 60% nilainya dalam beberapa bulan setelah konflik singkat dengan Amerika Serikat pada Juli tahun lalu.

Tekanan ekonomi semakin terlihat dari lonjakan harga kebutuhan pokok. Inflasi pangan di Iran mencapai 64% pada Oktober 2025, lalu melonjak menjadi 105% pada Februari 2026.

Harga roti dan sereal naik hingga 140%, sementara minyak dan lemak meningkat 219% dalam periode satu tahun hingga Maret 2026.

Untuk mengatasi krisis likuiditas, bank-bank di Iran bahkan mulai mengedarkan uang kertas dengan nominal 10 juta rial—terbesar dalam sejarah negara tersebut.

Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund memperkirakan ekonomi Iran akan menyusut 6,1% pada 2026 dengan inflasi mencapai 68,9%.

Nilai tukar rial kini merosot hingga sekitar 1,32 juta per dolar AS, mencerminkan tekanan besar terhadap stabilitas ekonomi negara tersebut.

Perdagangan Lumpuh Akibat Blokade

Penutupan efektif Selat Hormuz dan blokade oleh Amerika Serikat memutus sebagian besar jalur perdagangan internasional Iran, termasuk ekspor minyak.

Lebih dari 90% perdagangan Iran biasanya melewati selat tersebut. Kondisi ini berpotensi memangkas hingga 70% pendapatan ekspor negara itu.

Ekonom Oxford Economics, Jason Tuvey, menyebut perang juga menyebabkan penurunan drastis permintaan domestik dan impor.

Ancaman sanksi tambahan terhadap bank-bank China yang bertransaksi dengan Iran semakin memperparah tekanan ekonomi.

Peneliti Brookings Institution, Robin Brooks, menilai kombinasi blokade dan ancaman sanksi dapat menjadi pukulan besar bagi ekonomi Iran.

“Ini memutus salah satu jalur utama kehidupan ekonomi Teheran dan mempercepat titik di mana neraca pembayaran Iran akan menemui batas,” ujarnya.

Ketahanan Ekonomi dan Harapan Perdamaian

Meski menghadapi tekanan besar, sejumlah analis menilai Iran belum tentu akan mengalami kolaps total.

Ahli dari Atlantic Council, Amir Handjani, mengatakan Iran telah terbiasa menghadapi sanksi selama puluhan tahun dan memiliki mekanisme transaksi energi yang mampu menghindari pembatasan AS.

Ia menilai pemulihan ekonomi masih mungkin terjadi jika kesepakatan damai tercapai.

“Selama ada kesepakatan damai dengan Amerika Serikat yang mencabut sanksi dan membuka kembali ekonomi Iran, pemulihan bisa terjadi lebih cepat dari perkiraan,” ujarnya.

Sementara itu, analis lain menilai Selat Hormuz tetap menjadi kunci utama bagi kebangkitan ekonomi Iran di masa depan.

Pemulihan Bisa Lebih dari 10 Tahun

Meski ada peluang pemulihan, para pejabat ekonomi Iran memperingatkan bahwa proses tersebut tidak akan mudah.

Laporan media lokal menyebut pemerintah memperkirakan butuh lebih dari satu dekade untuk memulihkan ekonomi yang terdampak perang.

Kerusakan infrastruktur energi dan industri menjadi tantangan utama, dengan estimasi kerugian mencapai USD 200 miliar hingga USD 270 miliar.

Serangan terhadap kilang minyak dan pembangkit listrik disebut sebagai pukulan ekonomi paling berat.

Selain itu, tekanan fiskal diperkirakan semakin besar, dengan defisit anggaran yang melebar dan daya beli masyarakat yang terus menurun.

Analis Oxford Economics, Lucila Bonilla, menilai bahkan dalam skenario terbaik, Iran masih akan menghadapi masa sulit yang panjang.

“Bahkan dalam skenario paling optimistis, yang akan terjadi adalah periode panjang kelemahan ekonomi dan kesulitan bagi masyarakat, bukan pemulihan cepat,” ujarnya.

Read Entire Article
Bisnis | Football |