BI: IMF dan Investor Global Apresiasi Indonesia Mampu Jaga Stabilitas Ekonomi

5 hours ago 13

Liputan6.com, Jakarta - Bank Indonesia (BI) menyebutkan, Indonesia kembali ditegaskan sebagai salah satu “bright spot” dalam perekonomian global, dengan fundamental yang kuat, kebijakan yang kredibel serta ketahanan ekonomi yang terjaga di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Selain itu, di tengah dinamima global yang semakin kompleks, Managing Director International Monetary Fund (IMF), Kristalina Georgieva menilai Indonesia mampu mengelola keseimbangan antara stabilitas dan pertumbuhan secara optimal, dengan tetap menjaga momentum pertumbuhan yang didukung oleh kuatnya permintaan domestik.

Ia menyampaikan hal itu dalam pertemuan dengan Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo dan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dan anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dalam rangkaian pertemuan lanjutan dengan investor global pada IMF Spring Meetings, Selasa, 14 April 2026.

"IMF dan investor global mengapresiasi konsistensi Indonesia dalam menjaga stabilitas makroekonomi melalui sinergi kebijakan fiskal dan moneter yang solid, disiplin dalam mempertahankan defisit di bawah 3% dari Produk Domestik Bruto (PDB) serta respons kebijakan yang adaptif dan forward-looking dalam menghadapi tekanan eksternal,” ujar Direktur Departemen Komunikasi Bank Indonesia Anton Pitono dikutip dari laman bi.go.id, Rabu (15/4/2026).

Dalam rangkaian IMF Spring Meetings tersebut, Bank Indonesia melanjutkan outreach dengan para investor global untuk menekankan perekonomian Indonesia tetap berada pada jalur yang tepat dan terkelola dengan baik di tengah meningkatnya ketidakpastian global.

“Dengan pertumbuhan ekonomi yang tetap solid didukung oleh permintaan domestik yang kuat, inflasi yang terjaga dalam sasaran, serta pemulihan intermediasi perbankan, Indonesia menunjukkan ketahanan yang konsisten di tengah tekanan eksternal,” kata Anton.

Selain itu, Bank Indonesia juga menekankan respons kebijakan yang ditempuh tidak lagi bersifat konvensional, melainkan melalui bauran kebijakan yang terintegrasi dan adaptif, mengombinasikan kebijakan moneter yang berfokus pada stabilitas, kebijakan makroprudensial yang pro-pertumbuhan, serta penguatan sistem pembayaran untuk mendukung aktivitas ekonomi dan digitalisasi.

Komitmen BI

Di tengah dinamika global yang semakin kompleks, Bank Indonesia menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas melalui pengelolaan nilai tukar yang fleksibel namun terukur, penguatan instrumen moneter untuk menjaga daya tarik aset domestik, serta pengelolaan likuiditas yang hati-hati agar tetap mendukung pertumbuhan.

"Sinergi erat dengan Pemerintah dalam menjaga disiplin fiskal, termasuk komitmen mempertahankan defisit di bawah 3% dari PDB serta realokasi belanja ke sektor produktif, turut memperkuat kredibilitas kebijakan nasional,” ujar Anton.

Dalam jangka menengah,  Anton menuturkan, Indonesia juga menegaskan arah transformasi struktural menuju ekonomi bernilai tambah lebih tinggi melalui hilirisasi dan pengembangan sektor berbasis teknologi. Secara keseluruhan, rangkaian pertemuan ini memperkuat keyakinan investor, Indonesia tidak hanya berdaya tahan, tetapi juga semakin adaptif dan kredibel dalam menjaga stabilitas serta mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan di tengah tantangan global.

Bank Dunia: Ekonomi Indonesia Tangguh Hadapi Tekanan Harga Energi Global

Sebelumnya, Bank Dunia menyebut Indonesia sebagai salah satu negara di kawasan Asia Timur dan Pasifik yang memiliki ketahanan ekonomi dalam menghadapi dinamika global, terutama tekanan harga energi akibat gejolak geopolitik saat ini.

Pernyataan itu disampaikan Bank Dunia dalam laporan World Bank East Asia and Pacific Economic Update April 2026, yang dikutip Kamis (9/4/2026).

Dalam laporan tersebut, Bank Dunia menyebut ekonomi Indonesia memiliki bantalan (buffer) yang cukup kuat untuk menahan guncangan dari kenaikan harga energi. Indonesia juga dinilai masih dapat menikmati pendapatan ekspor komoditas yang relatif baik, yang Bank Dunia sebut sebagai “lindung nilai alami”.

Kondisi ini diharapkan membantu Indonesia mempertahankan neraca dagang, neraca transaksi berjalan, serta defisit fiskal di tengah kenaikan harga energi global. Oleh karena itu, Bank Dunia menilai Indonesia masih memiliki ruang kebijakan yang besar dalam menghadapi tantangan tersebut.

"Negara dengan bantalan kuat, seperti Kamboja, Vietnam, dan Indonesia, memiliki ruang kebijakan yang besar untuk menyerap tekanan tersebut," ujar Bank Dunia.

Tak hanya itu, Bank Dunia juga menyebut keputusan pemerintah untuk menahan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi efektif dalam meredam dampak kenaikan harga energi global terhadap inflasi Indonesia.

Hal itu didasarkan pada estimasi Bank Dunia melalui simulasi empiris terkait dampak kenaikan harga minyak dunia sebesar USD 20 per barel terhadap inflasi di negara-negara Asia Timur dan Pasifik.

Inflasi Indonesia

Dalam analisis tersebut, Bank Dunia memperkirakan inflasi Thailand akan mencapai 0,67 persen dan Filipina 0,62 persen dalam enam bulan ke depan jika harga minyak dunia naik USD 20 per barel. Sementara itu, Indonesia diproyeksikan mengalami dampak inflasi yang moderat, mendekati China sebesar 0,22 persen.

"Indonesia menunjukkan respons inflasi yang moderat, yang sebagian disebabkan oleh subsidi domestik dan mekanisme harga yang diatur pemerintah, sehingga melindungi konsumen dari tekanan harga energi," lanjut Bank Dunia.

Read Entire Article
Bisnis | Football |