Viral Mal Dipasangi Pagar, Bos Lippo dan Pakuwon Beri Penjelasan

9 hours ago 5

Liputan6.com, Jakarta - Dua pemilik jaringan pusat perbelanjaan terbesar di Indonesia, James Riady dari Lippo Group dan Alexander Tedja dari Pakuwon Group, menegaskan kondisi keamanan nasional tetap kondusif, sehingga tidak ada kebutuhan memasang pagar pembatas di mal. Keduanya menyatakan, pemasangan pagar di beberapa pusat perbelanjaan merupakan inisiatif manajemen lokal dan bukan kebijakan perusahaan.

Menurut Wakil Ketua Umum Koordinator (WKUK) Bidang Luar Negeri Kadin Indonesia sekaligus Chairman Lippo Group, James Riady, seluruh mal milik Lippo pernah memasang pagar ketika Indonesia menghadapi kerusuhan pada masa lalu. Namun, kata dia, pagar-pagar tersebut telah lama dibongkar seiring membaiknya situasi keamanan.  

"Dulu semua mal memasang pagar ketika terjadi kerusuhan. Sekarang sudah tidak diperlukan lagi karena situasi sudah tenang,” ujar James, dikutip Sabtu (1/8/2026). 

Senada, pendiri Pakuwon Group, Alexander Tedja juga memastikan pagar yang sempat dipasang di Mal Kota Kasablanka (Kokas), Jakarta Selatan (Jaksel) akan segera dibongkar. Menurut Alex, pemasangan pagar tersebut merupakan keputusan manajemen lokal tanpa arahan dari pemegang saham maupun kantor pusat.  

"Itu kebijakan manajemen lokal dan akan segera dibongkar," kata Alex.

Menurut Alex, isu pagar mal cukup ramai di media sosial. Namun, dia sepakat, situasi saat ini masih aman, sehingga tidak diperlukan pagar.

Pakuwon Group merupakan salah satu pengembang dan pengelola pusat perbelanjaan terbesar di Indonesia dengan jaringan mal yang tersebar di berbagai kota besar, yakni Surabaya, Jakarta, Bekasi, Yogyakarta, dan Solo. Di Surabaya, ada Pakuwon Mall Surabaya, Tunjungan Plaza, Pakuwon City Mall, Royal Plaza, dan Food Junction. Sedang di Jakarta, Pakuwon mengelola Kota Kasablanka, Gandaria City, dan Blok M Plaza.

Tak Ada Alasan Masyarakat Cemas

James kembali mengatakan bahwa tidak ada alasan bagi masyarakat untuk merasa cemas terhadap kondisi sosial maupun ekonomi. Menurut dia, pemerintah berhasil menjaga daya beli masyarakat melalui berbagai kebijakan strategis, antara lain mempertahankan harga BBM bersubsidi, tarif listrik rumah tangga bersubsidi, dan harga LPG 3 kilogram di tengah lonjakan harga energi dunia akibat konflik geopolitik. 

"Selama BBM subsidi tidak naik, LPG 3 kilogram tidak naik, dan tarif listrik rumah tangga bersubsidi tetap, tidak ada alasan masyarakat gelisah," kata James.

Dia menambahkan, stabilitas tersebut tercermin dari perkembangan industri pusat perbelanjaan yang justru sedang menikmati pertumbuhan sangat kuat. Menurut James, permintaan ruang usaha dari para tenant saat ini bahkan melampaui ketersediaan ruang di banyak mal.

"Sekarang justru kekurangan ruang. Permintaan untuk membuka toko lebih besar daripada pasokan ruang di pusat perbelanjaan modern. Ini masa emas bagi bisnis mal," kata James.

Karena prospek industri yang positif tersebut, Lippo Group terus melakukan ekspansi. Saat ini grup tersebut mengelola 71 mal dan 35 shopping center,  total 106 pusat perbelanjaan, yang tersebar di lebih dari 29 kota di Indonesia. "Pangsa  mal dan shopping center Lippo  sekitar 25 persen dari total ruang ritel modern di Indonesia," kata James.

"Kami terus membuka pusat perbelanjaan baru karena permintaan sangat tinggi. Kalau situasi tidak aman, tentu para tenant tidak akan berlomba membuka toko,” ujar James.

Pengembang Terus Ekspansi

Menurut James, pengembang terus berekspansi dan tingkat permintaan ruang usaha masih sangat tinggi. Ini menunjukkan kepercayaan pelaku usaha terhadap prospek ekonomi Indonesia tetap kuat. 

"Jika situasi tidak aman, tidak mungkin pengusaha mal melakukan ekspansi," kata dia.

James menegaskan, pemasangan pagar di beberapa lokasi hanyalah kasus yang bersifat terisolasi (isolated cases) dan tidak mencerminkan kondisi industri pusat perbelanjaan secara keseluruhan.

Dia menegaskan, kebijakan tersebut sepenuhnya merupakan keputusan manajemen lokal, bukan arahan pemilik perusahaan. "Itu hanya inisiatif manajemen lokal, bukan kebijakan pemilik ataupun kantor pusat. Bahkan setelah dikonfirmasi, pagar seperti itu memang tidak diperlukan,” tegas James.

Jaringan Lippo Malls tersebar di seluruh Indonesia, mulai  dari Jakarta, Bekasi, Bogor, Depok, Bandung, Tangerang, Yogyakarta, Surabaya, Malang, hingga Medan, Palembang, Bali, Manado, Kendari, dan berbagai kota lainnya. Sejumlah mal ikonik yang dikelola antara lain Lippo Mall Kemang, Lippo Mall Puri, Plaza Semanggi, Lippo Mall Nusantara, Senayan Park (SPARK), Bandung Indah Plaza, Sun Plaza Medan, Palembang Icon, dan Lippo Mall Kuta.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Read Entire Article
Bisnis | Football |