Top 3: Rupiah Kembali Tertekan Imbas Konflik AS-Iran

18 hours ago 18

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis, 9 Juli 2026. Tekanan terhadap rupiah terjadi seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga minyak dunia dan menekan sentimen terhadap aset berisiko.

Pelaku pasar juga mencermati kekhawatiran Bank Sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) terhadap tekanan inflasi yang masih bertahan.

Pada Kamis pagi, rupiah melemah 52 poin atau 0,29% menjadi 18.066 per dolar AS dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di level 18.014 per dolar AS.

Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede mengatakan pelemahan rupiah berlangsung sejalan dengan pergerakan mayoritas mata uang di kawasan Asia.

“Rupiah melemah bersama mayoritas mata uang Asia seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang menekan sentimen risiko di kawasan,” ungkap Josua dikutip dari Antara. 

Tekanan geopolitik meningkat setelah militer AS kembali melancarkan serangan terhadap Iran. Perkembangan tersebut meredupkan harapan tercapainya kesepakatan damai dalam waktu dekat sekaligus meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz.

Artikel Rupiah Hari Ini Tertekan Konflik AS-Iran, Diprediksi Bergerak hingga 18.125 per Dolar AS menyita perhatian pembaca di Kanal Bisnis Liputan6.com. Ingin tahu artikel terpopuler lainnya di Kanal Bisnis Liputan6.com? Berikut tiga artikel terpopuler di Kanal Bisnis Liputan6.com yang dirangkum Jumat, (10/7/2026):

1. Rupiah Hari Ini Tertekan Konflik AS-Iran, Diprediksi Bergerak hingga 18.125 per Dolar AS

Nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis, 9 Juli 2026. Tekanan terhadap rupiah terjadi seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga minyak dunia dan menekan sentimen terhadap aset berisiko.

Pelaku pasar juga mencermati kekhawatiran Bank Sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) terhadap tekanan inflasi yang masih bertahan.

Pada Kamis pagi, rupiah melemah 52 poin atau 0,29% menjadi 18.066 per dolar AS dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di level 18.014 per dolar AS.

Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede mengatakan pelemahan rupiah berlangsung sejalan dengan pergerakan mayoritas mata uang di kawasan Asia.

“Rupiah melemah bersama mayoritas mata uang Asia seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang menekan sentimen risiko di kawasan,” ungkap Josua dikutip dari Antara. 

Tekanan geopolitik meningkat setelah militer AS kembali melancarkan serangan terhadap Iran. Perkembangan tersebut meredupkan harapan tercapainya kesepakatan damai dalam waktu dekat sekaligus meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz.

Berita selengkapnya baca di sini

2. Jampidum Tangani Kasus Prolife, Begini Penjelasan Kejaksaan Agung

Kejaksaan Agung (Kejagung) menjelaskan perkara dugaan tindak pidana di sektor jasa keuangan yang melibatkan PT Asuransi Jiwa Prolife Indonesia ditangani oleh Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Umum (Jampidum), bukan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus), meski sebelumnya kasus yang berkaitan dengan Henry Surya diproses oleh Jampidsus.

Subdirektorat Eksekusi dan Eksaminasi Direktorat D Jampidum Kejaksaan Agung, Achmad Muhtarom, mengatakan pembagian kewenangan tersebut mengacu pada Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (P2SK).

"Pengelompokan perkara berdasarkan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2023 menempatkan perkara perbankan, pasar modal, termasuk sektor jasa keuangan dalam penanganan Direktorat Jampidum,” kata Achmad di Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Kamis (9/7/2026).

Ia menegaskan, penanganan perkara tersebut bukan didasarkan pada keterkaitan nama tersangka dengan perkara sebelumnya, melainkan pada jenis tindak pidana yang disangkakan dalam kasus ini.

Berita selengkapnya baca di sini

3. Dulu Disebut Sepatu Terjelek, Bagaimana Crocs Kuasai Pasar Global?

Dalam industri alas kaki dunia, kenyamanan sering kali harus dikorbankan demi mengejar estetika yang ramping dan elegan. Namun, Crocs Inc. berhasil membalikkan logika tersebut secara radikal. 

Sejak pertama kali diluncurkan pada awal tahun 2000-an, sepatu bakiak karet busa ini kerap dihujani kritik tajam karena bentuknya yang tebal, berlubang, dan dianggap jauh dari standar keindahan konvensional. Bukannya mundur atau mendesain ulang produknya agar terlihat seperti sepatu biasa, Crocs justru bersandar penuh pada keunikan bentuk tersebut.

Melalui strategi pemasaran yang berani, adaptif, dan sangat memahami psikologi generasi muda, mereka bertransformasi dari alas kaki praktis pekerja kapal menjadi salah satu tren streetwear paling dicari di panggung mode global.

Dilansir dari Indigo9 Digital, Kamis (9/7/2026), salah satu pilar utama kebangkitan Crocs adalah keberanian mereka untuk merangkul polarisasi publik. Merek ini secara sadar memanfaatkan fakta bahwa orang-orang hanya memiliki dua sikap ekstrem terhadap produk mereka: sangat menyukainya atau sangat membencinya.

Berita selengkapnya baca di sini

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Read Entire Article
Bisnis | Football |