Timnas Italia Gagal Lolos ke Piala Dunia 2026, Markas FIGC Jadi Sasaran Vandalisme

5 hours ago 6

Liputan6.com, Jakarta - Timnas Italia kembali menelan pil pahit setelah gagal melaju ke putaran final Piala Dunia untuk ketiga kalinya secara beruntun. Kekalahan dalam adu penalti melawan Bosnia dan Herzegovina di final play-off Piala Dunia pada Rabu (1/4/2026) dini hari WIB, memicu gelombang kekecewaan mendalam di kalangan penggemar sepak bola Italia.

Insiden vandalisme bahkan terjadi di markas Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) di Roma sebagai bentuk protes atas hasil yang mengecewakan ini.

Kekecewaan publik juga berujung pada desakan pengunduran diri Presiden FIGC, Gabriele Gravina, yang telah menjabat sejak 2018. Menteri Olahraga Italia, Andrea Abodi, turut menyuarakan perlunya pembaruan kepemimpinan di FIGC setelah kegagalan beruntun ini. Situasi ini menyoroti krisis yang melanda sepak bola Italia dan kebutuhan akan perubahan struktural yang signifikan.

Kegagalan Azzurri untuk lolos ke turnamen sepak bola terbesar dunia ini menimbulkan pertanyaan besar mengenai arah dan masa depan sepak bola di negara tersebut. Tekanan yang meningkat dari berbagai pihak menunjukkan betapa krusialnya momen ini bagi Federasi Sepak Bola Italia. Pertemuan umum FIGC yang dijadwalkan Gravina diharapkan dapat menjadi titik awal evaluasi menyeluruh.

Vandalisme dan Kekecewaan Penggemar

Kekalahan timnas Italia dalam final play-off Piala Dunia melawan Bosnia dan Herzegovina menyulut amarah para penggemar. Pada malam setelah pertandingan waktu setempat, markas besar Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) di Roma menjadi sasaran vandalisme. Telur-telur dilemparkan ke pintu masuk gedung FIGC di Via Allegri, Roma, sebagai ekspresi kekecewaan yang mendalam.

Insiden ini menunjukkan betapa besar harapan dan emosi yang melekat pada performa timnas Italia di mata publik. Kegagalan Azzurri untuk lolos ke Piala Dunia tidak hanya dianggap sebagai kekalahan olahraga, tetapi juga pukulan terhadap kebanggaan nasional. Penggemar melampiaskan frustrasi mereka secara langsung, menargetkan simbol otoritas sepak bola Italia.

Aksi vandalisme ini menjadi cerminan dari kekecewaan kolektif yang dirasakan oleh jutaan penggemar sepak bola di seluruh Italia. Mereka menuntut pertanggungjawaban atas serangkaian kegagalan yang telah membuat timnas absen dari panggung Piala Dunia selama beberapa edisi.

Presiden FIGC Gabriele Gravina menghadapi tekanan berat menyusul kegagalan timnas Italia. Saat ia kembali ke markas FIGC pada Rabu pagi, seorang penggemar membentangkan spanduk yang secara eksplisit mendesaknya untuk mengundurkan diri. Ini adalah kali kedua timnas Italia gagal lolos ke Piala Dunia selama masa jabatannya. Meskipun Gravina menolak untuk mundur pada malam sebelumnya, ia telah menjadwalkan pertemuan umum FIGC untuk keesokan harinya, Kamis, 2 April. Gravina sendiri telah menjabat sejak tahun 2018 dan terpilih kembali pada Februari 2025 dengan dukungan 98,68 persen suara. Dalam konferensi pers, Gravina menyerukan langkah-langkah dukungan untuk sistem sepak bola Italia, mengindikasikan bahwa ia melihat masalah ini lebih luas dari sekadar kepemimpinannya. Namun, desakan untuk mundur terus menguat, menunjukkan adanya ketidakpuasan yang mendalam terhadap kepemimpinannya.

Read Entire Article
Bisnis | Football |