Spanyol dan Jalan Panjang Menuju Gelar Piala Dunia Kedua

6 hours ago 8

Liputan6.com, Jakarta - Spanyol kembali berdiri di puncak sepak bola dunia setelah menaklukkan Argentina 1-0 pada final Piala Dunia 2026. Trofi kedua yang diraih La Roja bukan sekadar hasil dari generasi pemain berbakat, melainkan buah dari sebuah gagasan yang telah dirawat selama hampir dua dekade.

Sekilas, skuad juara 2010 dan 2026 tampak berbeda. Xavi Hernandez, Andres Iniesta, dan Sergio Busquets telah berganti dengan Rodri, Fabian Ruiz, Lamine Yamal, hingga Nico Williams.

Namun, ketika Spanyol memainkan bola dari kaki ke kaki dengan penuh kesabaran, membaca ruang, lalu menyerang melalui pergerakan yang terukur, benang merah itu kembali terlihat. Identitas sepak bola Spanyol tetap hidup meski wajah-wajah di lapangan telah berganti.

Semua Bermula dari Keputusan Luis Aragones

Bagi banyak tokoh di Federasi Sepak Bola Spanyol (RFEF), perjalanan menuju kejayaan modern dimulai pada 2008. Luis Aragones dinilai sebagai sosok yang memahami seperti apa karakter pemain yang dihasilkan klub-klub di negaranya.

"Ia menyadari tipe pemain yang dihasilkan klub-klub Spanyol. Klub mengembangkan pemain, lalu tim nasional memanggil mereka, dan sejak saat itu kami terus mengembangkan gaya bermain tersebut," kata mantan direktur olahraga RFEF, Jose Francisco Molina, kepada FIFA.

Keputusan itu mengubah arah sepak bola Spanyol. Tim nasional tidak lagi mengejar gaya bermain negara lain, tetapi membangun identitas yang sesuai dengan karakter para pemainnya.

David Gutierrez, Direktur Sekolah Pelatih RFEF, menilai kekuatan utama negaranya bukan terletak pada fisik. Menurutnya, keunggulan Spanyol lahir dari kemampuan memahami permainan secara kolektif.

"Ia membuat kami sadar bahwa mungkin secara fisik kami bukan yang tercepat atau terkuat. Namun, ada satu hal yang kami kuasai, yaitu memahami cara bermain sebagai satu tim," ujar Gutierrez.

Ketika Pelatih Menjadi Fondasi

Di Spanyol, proses pembinaan tidak dimulai dari mencari pemain hebat. Langkah pertama justru dilakukan dengan membentuk pelatih yang memiliki cara pandang yang sama terhadap sepak bola.

Direktur olahraga RFEF, Aitor Karanka, menjelaskan bahwa pendidikan pelatih diarahkan agar pemain mampu membaca permainan sejak usia muda. Fokusnya bukan hanya teknik individu, tetapi juga kecerdasan mengambil keputusan dalam setiap situasi.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

"Metodologi kami berpusat pada latihan berbasis penguasaan bola dan membangun kemampuan agar pemain mampu memahami permainan sejak usia muda," kata Karanka. Cara berpikir itu kemudian mengalir ke akademi, klub, hingga tim nasional. Hasilnya, pemain Spanyol tumbuh dengan kebiasaan mencari solusi melalui pemahaman permainan, bukan sekadar mengandalkan naluri.

Read Entire Article
Bisnis | Football |