Rupiah Hari Ini Lesu terhadap Dolar AS, Sentimen The Fed jadi Pemicu

19 hours ago 18

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup turun pada perdagangan Senin, (20/7/2026). Analis menilai, potensi the Federal Reserve (the Fed) menahan lebih lama suku bunga tinggi mempengaruhi rupiah.

Mengutip Antara, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melemah 27 poin atau 0,15% menjadi 17.948 per dolar AS dari sebelumnya 17.921 per dolar AS.

Di sisi lain, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga bergerak melemah dari level Rp 17.944 per dolar AS menjadi Rp 17.976 per dolar AS.

"Harga minyak yang lebih tinggi telah memperbarui kekhawatiran inflasi tetap di atas target Federal Reserve (the Fed) yang berpotensi memaksa pembuat kebijakan untuk mempertahankan kebijakan moneter yang ketat lebih lama. Suku bunga yang lebih tinggi biasanya mendukung imbal hasil obligasi pemerintah dan dolar AS,” kata dia dikutip dari Antara.

Kenaikan harga minyak disebabkan AS dengan Iran yang saling melancarkan serangkaian serangan selama akhir pekan. Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan telah melancarkan lebih banyak serangan terhadap Iran pada Minggu malam, 19 Juli 2026.

Serangan baru itu terjadi setelah serangan Iran terhadap pangkalan AS di Yordania menewaskan sedikitnya dua tentara AS dan melukai banyak lainnya. Militer Amerika terlihat menyerang berbagai target yang lebih luas di Iran, sementara Iran juga meningkatkan serangannya terhadap berbagai aset AS di negara-negara Teluk.

 Pertempuran masih tetap berfokus pada kendali Selat Hormuz, seiring pernyataan CENTCOM bahwa serangan AS bertujuan untuk melemahkan kemampuan militer Iran yang digunakan untuk menyerang kapal di Hormuz.

“Pengiriman (suplai minyak) melalui Hormuz sebagian besar masih terganggu membuat pasar tetap waspada terhadap kemungkinan gangguan pasokan minyak lebih lanjut dan memperhitungkan premi risiko yang lebih besar pada komoditas tersebut,” ujar Ibrahim.

Penutupan Rupiah Pekan Lalu

Sebelumnya, nilai tukar rupiah berhasil mengakhiri perdagangan Jumat (17/7/2026) di zona hijau di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan masih kuatnya ekspektasi suku bunga tinggi Amerika Serikat (AS). Berdasarkan data pasar, rupiah ditutup menguat 65 poin menjadi  17.921 per dolar Amerika Serikat (AS) dibandingkan penutupan sebelumnya di level 17.986 per dolar AS.

Pada perdagangan Jumat sore, mata uang rupiah bahkan sempat menguat hingga 85 poin. "Pada perdagangan sore ini, mata uang rupiah ditutup menguat 65 poin sebelumnya sempat menguat 85 poin dilevel Rp 17.921 dari penutupan sebelumnya di level Rp 17.986," kata Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas Ibrahim Assuaibi, dalam keterangannya, Jumat (17/7/2026).

Menurut Ibrahim, sentimen eksternal masih didominasi meningkatnya eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Gelombang serangan terbaru AS terhadap sejumlah target Iran memicu kekhawatiran baru terhadap stabilitas pasokan energi global. Iran dilaporkan membalas serangan tersebut dengan meluncurkan rudal dan drone ke sejumlah pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah.

Di sisi lain, muncul laporan Teheran telah meminta kelompok Houthi bersiap menutup jalur pelayaran minyak di Laut Merah apabila AS menyerang infrastruktur kelistrikan Iran. Situasi tersebut mendorong harga minyak dunia tetap bertahan di level tinggi. Kenaikan harga energi dinilai berpotensi menghidupkan kembali tekanan inflasi global setelah sebelumnya mulai menunjukkan tren melandai.

"Permusuhan yang diperbarui telah memperpanjang konflik Timur Tengah hingga bulan kelima, menjaga harga minyak mentah tetap tinggi dan menghidupkan kembali kekhawatiran bahwa biaya energi yang lebih tinggi dapat memicu kembali inflasi," ujarnya.

Sentimen Rupiah Lainnya

Ibrahim menjelaskan, tingginya harga minyak juga menjadi perhatian pelaku pasar karena dapat memengaruhi langkah Federal Reserve (The Fed). Meski data inflasi konsumen maupun produsen AS terbaru menunjukkan tekanan harga mulai mereda, pasar lebih fokus pada risiko inflasi akibat lonjakan harga energi.

Kondisi tersebut membuat ekspektasi penurunan suku bunga AS kembali tertahan. Pejabat The Fed juga masih menegaskan bahwa risiko inflasi belum sepenuhnya hilang. Bank sentral AS disebut masih membutuhkan beberapa bulan lagi data inflasi yang konsisten sebelum mempertimbangkan pelonggaran kebijakan moneter.

Faktor Internal

Ibrahim menjelaskan, dari faktor domestik yang mempengaruhi pergerakan rupiah yakni Bank Indonesia (BI) merilis hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) periode kuartal II-2026. Aktivitas dunia usaha terpantau meningkat. BI melaporkan Saldo Bersih Tertimbang (SBT) pada kuartal II-2026 berada di 12,97%, meningkat dibandingkan kuartal sebelumnya yakni 10,11%.

"Meningkatnya kegiatan usaha tersebut didorong oleh kenaikan kinerja mayoritas Lapangan Usaha (LU) utama, antara lain LU Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan, LU Konstruksi, dan LU Pertambangan dan Penggalian sejalan dengan aktivitas usahanya, serta LU Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum sejalan dengan permintaan terjaga pada rangkaian periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) dan high season liburan sekolah pada triwulan II-2026," ujarnya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Read Entire Article
Bisnis | Football |