Purbaya Bongkar Sumber Pendanaan untuk Tutup Defisit APBN 2026

23 hours ago 12

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkap sumber pendanaan defisit APBN 2026. Menurutnya, ruang untuk menutup defisit dari utang masih masuk akal.

Dia menjelaskan, ruang defisit APBN diperkirakan masih dalam batas yang ditentukan. Adapun, defisit APBN bakal ditekan hingga di bawah 2,9 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

"Ada, kalau defisit tambah kan, dari awal kan nambah sedikit tapi masih dalam limitnya. Ada penambahan utang tapi sebetulnya masih terkendali," kata Purbaya seperti dikutip dari wawancara Pemimpin Redaksi Emtek Media Retno Pinasti dengan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, Minggu (10/5/2026).

Diketahui, per Maret 2026, defisit APBN tembus Rp 240,1 triliun. Menurutnya angka ini masih bisa ditambal dari perolehan pajak sepanjang tahun kedepan.

"Oh dari pajak aja. Itu kan masih masuk-masuk desain, cuma di (pos) belanja kan, belanjanya dipercepat. Nanti kan ada siklus, biasanya pendapatan pajak meningkat di triwulan-triwulan tertentu. Tapi kan belanjanya sudah sebagian di depan, nanti kan ke belakangnya akan berkurang sedikit," urainya.

Dia menjelaskan, defisit APBN masih dalam batas target yang ditentukan sebesar 2,68 persen PDB. Bendahara Negara ini tetap menghitung kemungkinan naiknya harga minyak dunia. Meskipun begitu, defisit APBN tidak sampai jebol di atas 3 persen.

"Kita akan tekan terus di bawah 3 persen untuk defisit tahun ini. Tergantung nanti harga minyaknya berapa ya, average-nya. Yang jelas kita sudah hitung dengan harga minyak rata-rata 100 dolar sampai akhir tahun, defisitnya masih di sekitar 2,9 (persen)," tuturnya.

Defisit APBN Rp 240,1 Triliun

Sebelumnya, Kementerian Keuangan mencatat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) defisit Rp 240,1 triliun per 31 Maret 2026. Angka ini dinilai masih terkendali.

Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kementerian Keuangan, Deni Surjantoro menyampaikan defisit APBN tersebut setara dengan 0,93% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Adapun, batas defisit yang ditetapkan dalam APBN sebesar 2,68% PDB untuk periode sepanjang 2026.

"APBN mencatatkan defisit Rp 240,1 triliun (0,93% PDB), dengan keseimbangan primer negatif Rp 95,8 triliun," kata Deni dalam keterangan resmi, dikutip Jumat (1/5/2026).

Lebih Tinggi dari Tahun Lalu

Informasi, angka defisit APBN ini lebih tinggi 140,5% dari periode yang sama tahun lalu. Pada Januari-Maret 2025 lalu, angka defisit APBN mencapai Rp 99,8 triliun atau setara 0,41% terhadap PDB.

Diketahui, tingkat belanja pemerintah mencapai Rp 815 triliun dengan pendapatan negara sekitar Rp 574,9 triliun. Deni menilai, besaran defisit APBN tersebut masih dalam kategori aman dan terukur. Hal itu dikatakan sejalan dengan desain APBN 2026.

"Posisi ini masih sangat terjaga, terukur, dan sesuai desain APBN 2026. Pembiayaan anggaran juga dikelola secara prudent, efisien, dan fleksibel mengikuti dinamika pasar keuangan," tutur dia.

Pemerintah Sudah Pakai Rp 815 Triliun per Maret 2026

Kementerian Keuangan mencatat belanja pemerintah telah mencalai Rp 815 triliun pada periode Januari-Maret 2026. Jumlah belanja pemerinrah itu meningkat signifikan dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Kepala Biro Komunikasi dan Layanan InformasiKementerian Keuangan, Deni Surjantoro menjelaskan, angka belanja pemerintah tersebut naik 31,4% secara tahunan atau periode Januari-Maret 2025 lalu.

"Realisasi Belanja Negara tercapai Rp 815,0 triliun atau 21,2% APBN, tumbuh 31,4% (yoy) jauh lebih cepat dibanding tahun sebelumnya," ucap Deni dalam keterangan resmi, Kamis (30/4/2026).

Read Entire Article
Bisnis | Football |