Prediksi Rupiah Setelah Libur Panjang, 17.550 jadi Level Psikologis

8 hours ago 5

Liputan6.com, Jakarta - Presiden Komisaris HFX International Berjangka, Sutopo Widodo, memproyeksikan nilai tukar Rupiah  terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih bergerak dalam fase konsolidasi dengan kecenderungan melemah saat pasar kembali dibuka usai long weekend. Rupiah bahkan dinilai berpotensi kembali menguji level psikologis 17.550 seiring tekanan eksternal yang masih kuat.

Menurut Sutopo, penguatan indeks dolar AS menjadi faktor utama yang membebani pergerakan Rupiah. Kondisi tersebut didorong oleh meningkatnya kekhawatiran inflasi global serta transisi kepemimpinan di Federal Reserve yang memicu ekspektasi kebijakan moneter lebih ketat.

"Menjelang pembukaan pasar pasca long weekend, pergerakan Rupiah diproyeksikan masih akan tertahan dalam fase konsolidasi yang cenderung melemah (bearish bias), dengan risiko pengujian kembali ke level psikologis 17.550,” ujar Sutopo kepada Liputan6.com, Jumat (15/5/2026).

Selain faktor eksternal, Sutopo menilai libur panjang yang membuat pasar domestik tidak aktif berpotensi memicu lonjakan volatilitas saat perdagangan dibuka kembali, terutama di tengah arus modal global yang masih mencari aset safe-haven.

Namun demikian, ia melihat ada peluang tekanan terhadap Rupiah dapat sedikit tertahan oleh sikap pasar yang menanti hasil Bank Indonesia dalam Rapat Dewan Gubernur pekan depan, terutama terkait arah suku bunga acuan dan kebijakan stabilisasi pasar obligasi.

“Dalam perspektif siklus pasar yang lebih luas, pergerakan pekan depan akan menjadi penentu apakah Rupiah mampu membentuk landasan support yang kuat di area saat ini, atau justru terkonfirmasi melanjutkan tren pelemahan jangka panjang akibat tekanan fundamental yang masih bersifat persisten,” pungkasnya.

Rupiah Perkasa di Tengah Tekanan Global, Investor Mulai Lepas Dolar AS

Sebelumnya, nilai tukar rupiah berhasil ditutup menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (13/5/2026). Mata uang Garuda menguat ke level Rp17.476 per dolar AS dari posisi sebelumnya Rp17.529 per dolar AS.

Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX), Muhammad Amru Syifa, menilai penguatan rupiah dipicu aksi ambil untung atau profit taking terhadap dolar AS setelah sebelumnya mata uang Negeri Paman Sam menguat cukup tajam.

“Penguatan rupiah terjadi seiring aksi ambil untung (profit taking) terhadap dolar AS setelah sebelumnya mengalami penguatan cukup tajam pasca rilis data inflasi Amerika Serikat yang melampaui ekspektasi pasar,” ujar Amru dikutip dari Antara, Rabu (13/5/2026).

Data inflasi AS yang lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya sempat mendorong penguatan dolar AS di pasar global.

Berdasarkan laporan Anadolu, tingkat inflasi tahunan AS pada April 2026 mencapai 3,8%, tertinggi sejak Mei 2023. Angka tersebut lebih tinggi dibanding ekspektasi pasar yang berada di level 3,7%.

Sementara itu, inflasi AS pada Maret 2026 tercatat sebesar 3,3%.

Kondisi tersebut membuat investor mulai melakukan penyesuaian posisi setelah dolar AS menguat signifikan dalam beberapa waktu terakhir.

Pelaku Pasar Berhati-hati

Selain faktor profit taking, pelaku pasar juga disebut cenderung berhati-hati sambil menunggu sejumlah sentimen global penting.

Investor kini menanti rilis data inflasi produsen Amerika Serikat atau Producer Price Index (PPI), yang dinilai dapat memengaruhi arah kebijakan suku bunga bank sentral AS atau The Fed.

Di sisi lain, pasar juga mencermati perkembangan hubungan Amerika Serikat dan China, terutama terkait agenda pertemuan Presiden AS Donald Trump dengan Presiden China Xi Jinping.

Menurut Amru, tensi geopolitik di Timur Tengah turut memengaruhi pergerakan pasar keuangan global.

“Di tengah tingginya tensi geopolitik Timur Tengah, sebagian pelaku pasar mulai melakukan reposisi aset sehingga tekanan terhadap mata uang emerging market sedikit berkurang,” katanya.

Perubahan strategi investasi tersebut membuat tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, mulai mereda untuk sementara waktu.

Namun, pasar masih akan bergerak dinamis mengikuti perkembangan geopolitik dan arah kebijakan ekonomi global.

Read Entire Article
Bisnis | Football |