Motor Listrik Nasional Jadi Senjata Kurangi Impor BBM

9 hours ago 12

Liputan6.com, Jakarta - BPI Danantara mendorong Motor Listrik Nasional (Molinas) sebagai proyek strategis untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor BBM sekaligus membangun ekosistem industri kendaraan listrik dari hulu hingga hilir.

Managing Director Industrialisasi BPI Danantara Ardy Muawin mengatakan, Danantara melihat Molinas bukan sekadar proyek produksi motor listrik, tetapi sebagai ekosistem industri yang menghubungkan bahan baku, baterai, manufaktur, pembiayaan, hingga pasar.

"Kalau mau bangun industri, ekosistemnya harus hadir. Kalau tidak, nanti hanya hit and run, pabrik dibangun, produknya ada, tetapi lima tahun lagi hilang karena ekosistem tidak terbentuk," kata Ardy dalam diskusi Navigating the Challenges of the Motor Vehicle Industry di Jakarta, Kamis (20/8/2026).

Ardy mengatakan, Danantara menggunakan tiga pendekatan dalam menentukan investasi industri, yaitu resource driven, demand driven, dan strategic driven. Pendekatan tersebut bertujuan mengubah basis ekonomi Indonesia dari penjualan sumber daya alam menjadi penguasaan kemampuan industri dan teknologi.

Menurut Ardy, Indonesia memiliki pasar domestik sekitar 280 juta penduduk yang dapat menjadi basis permintaan bagi industri nasional. Kondisi tersebut membuka peluang substitusi impor melalui pengembangan produk yang sesuai dengan kebutuhan pasar domestik.

Danantara melihat elektrifikasi kendaraan sebagai bagian dari strategi ketahanan energi karena Indonesia masih memiliki ketergantungan tinggi terhadap impor BBM. Ardy mengatakan, perpindahan dari motor berbahan bakar bensin ke motor listrik berpotensi mengurangi konsumsi BBM sekaligus menekan beban subsidi energi.

"Ujungnya atas arahan Presiden adalah ketahanan energi, sehingga independensi atas impor BBM kita bisa dikurangi,” ujar Ardy.

Tantangan Utama Pengembangan Molinas

Danantara menilai pembentukan permintaan menjadi tantangan utama pengembangan Molinas karena sekitar 70%-80% pembeli motor menggunakan pembiayaan kredit. Ardy mengatakan keterbatasan pasar motor listrik bekas membuat lembaga pembiayaan menghadapi risiko lebih tinggi ketika konsumen mengalami gagal bayar.

Danantara juga menemukan bunga pembiayaan motor dapat mencapai 30%-40%, sedangkan pembiayaan mobil berada di kisaran 12%. Perbedaan biaya pembiayaan tersebut dinilai dapat menghambat adopsi motor listrik oleh konsumen berpendapatan menengah ke bawah.

Ardy mengatakan pemerintah perlu menjadi katalis awal melalui subsidi, regulasi, pengadaan, dan kebijakan lain untuk membentuk permintaan. Danantara juga mempertimbangkan penggunaan armada motor listrik untuk kebutuhan pemerintah, layanan publik, dan logistik sebagai anchor demand.

Dari sisi operasional, Danantara mencatat penggunaan motor listrik dapat menurunkan biaya operasional pengemudi hingga Rp 10.000-Rp 20.000 per hari dibandingkan motor berbahan bakar bensin. Penghematan tersebut dapat mencapai sekitar Rp 500.000 per bulan dengan asumsi 25 hari operasional.

"Kalau bisa menghemat Rp 20.000 kali 25 hari, Rp 500.000 per bulan, itu jumlah yang besar bagi teman-teman pengemudi,” kata Ardy.

Pembangunan Infrastruktur Pengisian dan Penukaran Baterai

Danantara juga mendorong pembangunan infrastruktur pengisian dan penukaran baterai untuk mengatasi hambatan adopsi. Danantara menilai pembangunan infrastruktur perlu berjalan bersamaan dengan pertumbuhan pasar agar konsumen tidak menghadapi keterbatasan akses pengisian daya.

Ardy mengatakan Molinas juga membutuhkan standardisasi baterai agar produsen dalam konsorsium menggunakan spesifikasi yang sama. Standardisasi tersebut mencakup kapasitas baterai, bentuk, konektor, dan sistem pengisian sehingga produsen dapat mencapai skala ekonomi.

Danantara menyiapkan ekosistem industri Molinas melalui aset industri yang berada dalam ekosistem Danantara. Ekosistem tersebut mencakup nikel untuk baterai, aluminium untuk rangka dan komponen, baja untuk struktur, serta material tanah jarang untuk kebutuhan komponen teknologi.

Ardy mengatakan, PT Len Industri berperan sebagai agregator dan integrator dalam pembentukan konsorsium Molinas bersama sejumlah mitra potensial. Danantara mengarahkan konsorsium tersebut untuk memiliki desain dan kekayaan intelektual sendiri serta membangun kemampuan manufaktur dan rantai pasok domestik.

“Kami ingin muncul value chain dan ekosistem, bukan hanya membangun motor Molinas,” ujar Ardy.

Penguasaan IP dan Kemampuan Desain

Danantara menilai penguasaan intellectual property dan kemampuan desain menjadi kunci agar industri motor listrik nasional tidak berhenti pada aktivitas perakitan. Pengembangan tersebut diarahkan untuk mencakup baterai, battery management system, kontroler, motor listrik, hingga komponen pendukung.

Ardy mengatakan transisi menuju kendaraan listrik tetap perlu melibatkan industri kendaraan bermesin pembakaran internal (internal combustion engine/ICE). Menurut dia, transisi energi dapat membuka ruang bagi industri komponen lama untuk beradaptasi dengan kebutuhan kendaraan listrik.

“Transisi itu tidak akan menarik satu sisi, tetapi harus berjalan bersama karena perubahan menuju kendaraan listrik akan terjadi pada masa depan,” ujar Ardy.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Read Entire Article
Bisnis | Football |