Motif Trump Janji Dukung Stabilitas Selat Hormuz setelah Gencatan

3 hours ago 4

Jakarta, CNN Indonesia --

Setelah gencatan senjata diumumkan, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan negaranya akan membantu mengatasi kemacetan lalu lintas kapal di Selat Hormuz.

Keinginan Trump itu disebut jadi motif ekonomi karena ia terang-terangan mau memungut biaya di Selat Hormuz, bukan Iran.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam pernyataan pada Rabu (8/4) Trump mengatakan langkah tersebut merupakan bagian dari upaya menjaga kelancaran jalur maritim strategis tersebut.

"Akan ada banyak tindakan positif. Keuntungan besar akan tercipta. Iran dapat memulai proses rekonstruksi," tulis Trump di platform Truth Social.

Trump mengindikasikan bahwa ia merasa yakin pembukaan kembali jalur air utama tersebut, yang dilalui oleh 20% minyak dunia setiap hari, akan berjalan dengan baik.

Bukan hanya itu, Trump akan mengirim berbagai pasokan dan tetap berada di kawasan untuk memastikan situasi berjalan dengan baik.

"Kami akan mengirim berbagai jenis pasokan dan 'tetap berada di sekitar' untuk memastikan semuanya berjalan lancar," ujarnya.

Padahal sebelum pengumuman gencatan senjata, Trump ingin mengambilalih Selat Hormuz dan meminta bayaran dari setiap kapal yang lewat.

"Bagaimana kalau kita saja yang memungut biaya lintasnya? Saya pikir kita yang melakukannya, bukan mereka," kata Trump Senin (6/4) saat menjawab pertanyaan wartawan mengenai kemungkinan Iran menetapkan tarif bagi kapal yang melewati Selat Hormuz.

Selat Hormuz sendiri hingga kini masih dalam penguasaan Iran sejak pecahnya konflik dengan AS dan Israel. Jalur ini merupakan salah satu rute vital perdagangan energi global karena dilalui sebagian besar pasokan minyak dunia.

Meski demikian, militer AS sebelumnya menyatakan belum siap untuk mengawal kapal-kapal tanker di kawasan tersebut, mengingat risiko tinggi serangan dari Iran di perairan sempit itu.

Pernyataan Trump yang awalnya menandai eskalasi retorika, terutama terkait kemungkinan penguasaan sumber daya energi negara lain, kini mulai melunak.

Memang, dalam hukum internasional, sumber daya alam seperti minyak berada di bawah kedaulatan negara masing-masing, sebagaimana diatur dalam resolusi Majelis Umum PBB tahun 1962.

Sikap Trump yang melunak setelah pengumuman gencatan senjata, dinilai sebagai cara melepaskan dari perang.

"Memungkinkan Trump untuk melepaskan diri dari pilihan yang tampaknya berbahaya - antara meningkatkan ketegangan dengan janjinya bahwa "seluruh peradaban akan mati malam ini" atau mundur dan merusak kredibilitasnya. Namun, presiden AS mungkin hanya membeli penangguhan sementara untuk dirinya sendiri," kata Anthony Zurcher, koresponden BBC di Amerika Serikat.

Meski dalam negosiasi di Pakistan nanti akan berliku namun ketegangan mulai surut.

AS dan Iran kini akan terlibat dalam negosiasi selama dua minggu ke depan, untuk mendapatkan waktu guna mencoba mencapai penyelesaian permanen.

Sementara media Inggris The Guardian menyebut, Trump meraih kepuasan instan lewat gencatan senjata.

(imf/bac)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Bisnis | Football |