Morgan Stanley Pangkas Prediksi Harga Minyak

5 hours ago 11

Liputan6.com, Jakarta - Morgan Stanley memangkas prediksi harga minyak. Hal ini seiring arus lalu lintas melalui Selat Hormuz kembali lebih cepat dari yang diperkirakan. Sementara itu, pasokan Amerika Serikat (AS) yang kuat dan permintaan China yang lemah meningkatkan risiko surplus.

Morgan Stanley memangkas perkiraan Brent pada kuartal ketiga 2026 sebesar US$ 15 menjadi US$ 75 per barel. Analis Morgan Stanley, Martjin Rats, Charlotte Firkins dan Amy Gower memprediksi, harga minyak akan turun lebih lanjut pada kuartal ketiga 2027 menjadi US$ 70.

"Ekspor melalui Selat Hormuz pulih lebih cepat dari yang diperkirakan. Sementara itu, dua faktor utama yang memungkinkan pasar untuk beradaptasi dalam beberapa bulan terakhir, yaitu ekspor AS yang tinggi, impor China yang rendah, sebagian besar masih berlaku,” demikian disampaikan Analis Morgan Stanley, dikutip dari Yahoo Finance, Selasa (30/6/2026).

Meskipun lalu lintas di Selat Hormuz itu melambat pada akhir pekan lalu setelah peningkatan konflik yang menyebabkan dua kapal tertabrak, ada indikasi perusahaan tanker dan awaknya bersedia untuk melewati Selat Hormuz. Itu adalah langkah penting untuk mengembalikan pasar minyak global ke kondisi normal dan membuka pasokan jutaan barel minyak dari wilayah yang kaya energi tersebut.

Morgan Stanley menghitung 35 kapal tanker minyak dan gas yang keluar dari Teluk Persia melalui selat tersebut pada Kamis, pertama kalinya level itu kembali ke kisaran 30 hingga 40 barel yang lazim sebelum konflik dimulai pada Februari.

Untuk menyeimbangkan pasar minyak pada 2027, aliran melalui Selat Hormuz hanya perlu pulih hingga sekitar 65% dari level sebelum konflik Amerika Serikat dan iran. Jumlah itu sekitar 11-12 juta barel per hari.

Sebelumnya, kontrak berjangka Brent naik ke puncak di atas US$ 126 pada April. Harga minyak merosot setelah Iran dan AS melanjutkan pembicaraan yang bertujuan mengakhiri perang empat bulan tersebut secara permanen. Pada Senin, 29 Juni 2026, kontrak minyak untuk September ditutup di US$ 73,91.

Harga Minyak Kembali Tembus US$ 70 per Barel

Sebelumnya, harga minyak dunia menguat pada perdagangan Senin setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran mencapai kesepakatan untuk menghentikan aksi saling serang yang terjadi dalam beberapa hari terakhir di kawasan Timur Tengah. Kesepakatan tersebut memberikan harapan baru terhadap stabilitas pasokan minyak global meski ketegangan di kawasan belum sepenuhnya mereda.

Mengutip CNBC, Selasa (30/6/2026), harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat naik 1,9% menjadi US$ 70,56 per barel. Kenaikan ini membuat harga WTI kembali berada di atas level US$ 70 per barel setelah pada Jumat lalu ditutup di bawah level tersebut untuk pertama kalinya sejak 27 Februari, sehari sebelum pecahnya perang Iran.

Sementara itu, harga minyak mentah Brent sebagai acuan internasional turut menguat 1,3% menjadi US$ 72,91 per barel.

Penguatan harga minyak terjadi setelah bentrokan antara AS dan Iran sempat mengancam proses negosiasi untuk mengakhiri konflik. Pejabat AS menyatakan kedua negara sepakat menghentikan sementara aksi militer sehingga kapal-kapal dagang dapat kembali melintasi Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis bagi perdagangan minyak dunia.

"Pembicaraan teknis dijadwalkan terus berlanjut untuk membahas seluruh poin dalam nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU)," kata seorang pejabat AS kepada CNBC, merujuk pada MoU yang disepakati AS dan Iran pada 17 Juni.

"Untuk sementara waktu, kedua belah pihak akan menghentikan aksi militer sehingga kapal-kapal dapat melintas dengan bebas," lanjut pejabat tersebut.

Saling Serang

Sebelumnya, militer AS melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran setelah sebuah kapal tanker komersial yang melintas di Selat Hormuz dilaporkan terkena proyektil pada Sabtu. Di saat yang sama, Kuwait dan Bahrain juga melaporkan adanya serangan rudal serta drone yang masuk ke wilayah mereka.

Eskalasi tersebut mendorong Presiden AS Donald Trump kembali melontarkan peringatan keras kepada Iran.

Melalui akun Truth Social miliknya, Trump menyatakan bahwa militer AS telah menyerang lokasi penyimpanan rudal, drone, hingga radar pantai milik Iran sebagai respons atas dugaan pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata.

"Pesawat tempur Amerika Serikat baru saja menyerang lokasi penyimpanan rudal dan drone Iran serta fasilitas radar pantai karena kembali melanggar Perjanjian Gencatan Senjata!" tulis Trump.

Trump juga memperingatkan bahwa AS siap mengambil langkah yang lebih besar apabila Iran kembali melakukan pelanggaran.

"Bisa saja tiba saatnya kami tidak lagi dapat bersikap lunak dan terpaksa menyelesaikan secara militer operasi yang telah kami mulai dengan sangat berhasil. Jika itu terjadi, Republik Islam Iran tidak akan ada lagi!" tambahnya.

Komando Pusat AS (CentCom) sebelumnya menyatakan jet tempur Negeri Paman Sam menyerang 10 sasaran militer Iran di sekitar Selat Hormuz sebagai balasan atas serangan drone terhadap kapal tanker berbendera Panama, M/T Kiku.

Menurut CentCom, kapal tersebut tengah mengangkut lebih dari 2 juta barel minyak mentah saat melintasi Selat Hormuz.

Jangan Terlalu Cepat Optimistis

Meski harga minyak menguat, sejumlah analis menilai pelaku pasar terlalu cepat optimistis terhadap prospek pemulihan pasokan minyak dari kawasan Teluk Persia.

Strategis ING, Warren Patterson dan Ewa Manthey, mengatakan perkembangan yang terjadi sepanjang akhir pekan menunjukkan bahwa risiko terhadap pasar minyak masih sangat tinggi.

Dalam laporan riset yang dirilis Senin, keduanya menilai perhatian pelaku pasar lebih banyak tertuju pada potensi pulihnya arus pasokan minyak dibandingkan berbagai ancaman yang masih membayangi kawasan.

"Meski demikian, pelaku pasar tampaknya mengabaikan perkembangan tersebut dan lebih memilih fokus pada dampak positif jika aliran pasokan minyak terus pulih terhadap keseimbangan pasar global," tulis Patterson dan Manthey.

Keduanya mengingatkan bahwa sikap pasar yang terlalu tenang justru berpotensi menjadi risiko apabila proses pemulihan pasokan berlangsung lebih lambat dari perkiraan atau konflik kembali memanas.

"Sikap terlalu percaya diri seperti ini terasa janggal dan justru membuka peluang kenaikan harga minyak yang cukup besar apabila pemulihan pasokan berjalan lambat atau terjadi eskalasi konflik yang signifikan. Meski secara teknikal pasar minyak sudah berada di area jenuh jual (oversold), momentum pergerakannya masih cenderung melemah," tulis mereka.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Read Entire Article
Bisnis | Football |