Momen Unik Piala Dunia: Korea Selatan Sengat Italia di 2002

10 hours ago 13

Liputan6.com, Jakarta - Piala Dunia selalu menyajikan drama tak terduga, dan salah satu momen paling mengejutkan terjadi pada edisi 2002 ketika tim raksasa Italia harus mengakui keunggulan tuan rumah Korea Selatan di babak 16 besar. Kekalahan ini bukan hanya sekadar hasil pertandingan, melainkan sebuah peristiwa yang memicu kontroversi panjang dan menjadi sorotan dunia sepak bola. 

Pertandingan yang berlangsung di Daejeon World Cup Stadium ini mempertemukan skuad Italia yang bertabur bintang dengan tim Korea Selatan yang penuh semangat di bawah asuhan pelatih Guus Hiddink.

Kekalahan telak ini mengulang trauma masa lalu bagi Italia, yang sebelumnya pernah tersingkir secara mengejutkan oleh Korea Utara pada Piala Dunia 1966. Peristiwa ini menunjukkan bagaimana sejarah dapat berulang dengan cara yang paling tidak terduga dalam ajang sepak bola terbesar di dunia.

Insiden kontroversial yang melibatkan wasit Byron Moreno menambah panasnya suasana pasca-pertandingan, memicu kemarahan publik Italia dan teori konspirasi yang beredar luas. Kisah ini menjadi salah satu babak paling gelap dalam sejarah partisipasi Italia di Piala Dunia dan terus dibicarakan hingga kini, menawarkan pelajaran berharga tentang tekanan, ekspektasi, dan ketidakpastian dalam sebuah turnamen global.

Bayangan Masa Lalu: Italia dan Trauma Korea

Pada 22 Juli 1966, kekalahan 1-0 Italia dari Korea Utara di Ayresome Park menjadi noda hitam dalam sejarah sepak bola mereka, menyebabkan tim tersingkir dari Piala Dunia. Bek Italia, Francesco Janich, bahkan disambut lemparan tomat busuk setibanya di bandara Genoa, menunjukkan betapa dalamnya luka kekalahan tersebut bagi bangsa Italia. Trauma ini membekas kuat dalam ingatan kolektif, membentuk narasi emosional yang mendalam.

Tiga puluh enam tahun kemudian, saat Italia kembali bertemu tim dari semenanjung Korea, kali ini Korea Selatan di Piala Dunia 2002, reaksi media sangatlah emosional. Emanuela Audisio dari La Repubblica menggambarkan pertandingan itu sebagai "Pertempuran Caporetto dalam olahraga, Vietnam-nya Italia," menekankan betapa sensitifnya isu ini. Ia menambahkan bahwa "Hanya menyebut kata 'Korea' saja sudah menjadi mimpi buruk," menunjukkan beban sejarah yang dibawa Italia ke pertandingan krusial ini.

Italia tiba di Piala Dunia 2002 dengan skuad yang luar biasa, dihuni penyerang kelas dunia seperti Alessandro Del Piero, Christian Vieri, Francesco Totti, dan Pippo Inzaghi yang sedang di puncak performa. Lini belakang mereka tak kalah tangguh dengan Fabio Cannavaro dan Alessandro Nesta, serta kiper termahal dunia, Gigi Buffon. Mayoritas pemain ini merupakan bagian dari tim yang mencapai final Kejuaraan Eropa dua tahun sebelumnya, menjanjikan performa gemilang di Piala Dunia. Di bawah asuhan manajer Giovanni Trapattoni, yang memiliki rekam jejak impresif dengan tujuh gelar Serie A dan berbagai trofi Eropa, Italia diharapkan melaju jauh. Namun, taktik ultra-defensif Trapattoni sering dianggap ketinggalan zaman, meskipun Italia berhasil lolos kualifikasi Piala Dunia tanpa kekalahan. Ekspektasi tinggi dan gaya bermain yang konservatif menciptakan tekanan tersendiri bagi Azzurri. Di sisi lain, Korea Selatan dilatih oleh Guus Hiddink, yang reputasinya besar namun hasil awalnya kurang memuaskan, termasuk kekalahan telak 5-0 dari Prancis di Piala Konfederasi 2001. Hiddink menerapkan meritokrasi ketat, mendorong pemain muda untuk berekspresi, yang berlawanan dengan budaya Korea yang menghargai usia. Kehidupan pribadinya juga sempat menimbulkan kontroversi di Korea Selatan yang konservatif, namun ia berhasil membangun tim yang solid. Korea Selatan menunjukkan performa impresif di fase grup, mengalahkan Polandia 2-0, bermain imbang 1-1 dengan AS, dan menundukkan Portugal 1-0 untuk melaju ke babak 16 besar. Keberhasilan ini menunjukkan tangan dingin Hiddink dalam meracik tim, mengubah mereka menjadi kekuatan yang patut diperhitungkan.

Read Entire Article
Bisnis | Football |