Indonesia Punya 93 Proyek Hidrogen, Siap Tarik Investasi Rp 32 Triliun

6 hours ago 10

Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah terus mempercepat pengembangan ekosistem hidrogen sebagai bagian dari transisi menuju energi bersih. Hingga saat ini, Indonesia telah memiliki 93 inisiatif proyek hidrogen yang tersebar di berbagai daerah dengan nilai investasi mencapai Rp 32 triliun.

Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi mengatakan, seluruh proyek tersebut diarahkan untuk mendukung dekarbonisasi sektor industri, transportasi, dan ketenagalistrikan sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.

"Saat ini kami mempunyai 93 inisiatif pengembangan ekosistem hidrogen yang proyek-proyeknya tersebar di seluruh Indonesia dan melahirkan investasi sebesar Rp 32 triliun," ujar Eniya dalam Global Hydrogen Ecosystem Summit (GHES) 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), dikutip Rabu (22/7/2026).

Forum GHES 2026 menjadi ajang bagi pemerintah, pelaku usaha, akademisi, investor, hingga mitra internasional untuk mempercepat pembangunan industri hidrogen nasional.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan hidrogen memiliki peran strategis, bukan hanya sebagai energi bersih, tetapi juga untuk memperkuat ketahanan energi nasional dan mendorong hilirisasi industri.

"Pengembangan hidrogen selaras dengan arahan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto. Hidrogen merupakan energi alternatif yang sangat penting di tengah kondisi geopolitik global yang tidak menentu, seperti konflik di Timur Tengah yang melahirkan ketidakpastian. Kondisi ini memaksa setiap negara untuk memproteksi kebutuhan energi nasionalnya dengan memanfaatkan keunggulan komparatif masing-masing," ujar Bahlil.

Ciptakan Nilai Tambah

Bahlil mengatakan pengembangan hidrogen di Indonesia diharapkan mampu menciptakan nilai tambah bagi perekonomian nasional. Menurut dia, pembangunan ekosistem hidrogen yang terintegrasi dari hulu hingga hilir akan meningkatkan daya saing industri, menarik investasi baru, membuka lapangan kerja, sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.

Meski demikian, ia mengakui biaya produksi hidrogen masih menjadi tantangan utama karena belum mampu bersaing dengan sumber energi lain, termasuk biodiesel B50.

"Masih mahalnya energi berbasis hidrogen menjadi tantangan untuk kita semua dalam rangka bagaimana mendapatkan teknologi yang lebih efisien agar lebih kompetitif. Tetapi keyakinan saya dengan perang terus terjadi, dengan geopolitik yang tidak menentu dan tidak lagi gampang untuk kita mendapatkan minyak di blok-blok yang baru, maka tidak akan lama lagi harga hidrogen akan jauh lebih kompetitif dengan sumber-sumber BBM minyak lainnya," jelas Bahlil.

Pemerintah juga tengah mengembangkan proyek hidrogen dalam program dedieselisasi di Sumba dan Pulau Rote. Program tersebut ditargetkan mulai beroperasi secara komersial pada 2028 dan diproyeksikan memangkas biaya produksi listrik secara signifikan.

Pilot Bus Hidrogen Diesel Dual Fuel

Selain mengumumkan perkembangan investasi, pemerintah juga memperkenalkan penerapan teknologi hidrogen di sektor transportasi melalui Pilot Bus Hidrogen Diesel Dual Fuel (H2 DDF). Bus milik Perum DAMRI itu dimodifikasi agar dapat menggunakan kombinasi bahan bakar solar dan gas hidrogen.

Program tersebut merupakan hasil kolaborasi Kementerian ESDM, PT PLN (Persero), Perum DAMRI, PT SUCOFINDO (Persero), dan PT Tritunggal Prakarsa Global.

Direktur Utama PT SUCOFINDO (Persero) Sandry Pasambuna mengatakan pihaknya bertugas memastikan teknologi tersebut memenuhi standar keselamatan dan kelayakan operasional.

"Sebagai perusahaan Testing, Inspection, Certification and Consultation (TICC), SUCOFINDO berperan sebagai pihak independen yang memastikan implementasi teknologi H2 DDF pada Bus DAMRI memenuhi aspek keselamatan, keandalan, dan kesesuaian teknis," ujar Sandry.

Berdasarkan hasil pengujian SUCOFINDO, penggunaan sistem H2 DDF mampu menurunkan emisi opasitas hingga 57,66%, karbon monoksida 45,45%, karbon dioksida 39,37%, dan nitrogen oksida 21,16%. Teknologi ini diharapkan menjadi langkah awal pemanfaatan hidrogen di sektor transportasi tanpa harus mengganti seluruh armada bus diesel yang telah beroperasi.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Read Entire Article
Bisnis | Football |