IMF Sebut Asia Jadi Motor Ekonomi Dunia, Indonesia Bisa apa?

1 day ago 11

Liputan6.com, Jakarta - Dana Moneter Internasional (IMF) dalam laporan World Economic Outlook (WEO) April 2026 menyebut kawasan Asia, khususnya negara berkembang, akan tetap menjadi pusat pertumbuhan ekonomi global di tengah gejolak dunia.

Dikutip dair laporan tersebut, Kamis (16/4/2026), meski ekonomi global menghadapi tekanan akibat konflik geopolitik dan ketidakpastian perdagangan, Asia dinilai mampu menjaga momentum pertumbuhan. Kawasan ini ditopang oleh aktivitas perdagangan yang kuat, terutama di sektor teknologi seperti semikonduktor dan industri digital.

IMF mencatat bahwa ekspor teknologi dari negara-negara Asia terus meningkat, seiring permintaan global terhadap digitalisasi dan kecerdasan buatan (AI).

Indonesia sebagai bagian dari Asia Tenggara masuk dalam kelompok negara yang berpotensi menikmati dampak positif dari tren tersebut. Bersama negara ASEAN lainnya, Indonesia diproyeksikan tetap tumbuh stabil di atas 4% dalam beberapa tahun ke depan.

Peluang Besar untuk Indonesia

Di tengah pergeseran pusat pertumbuhan global ke Asia, Indonesia memiliki sejumlah peluang strategis. Salah satunya adalah potensi untuk masuk lebih dalam ke rantai pasok global yang kini mengalami perubahan akibat ketegangan geopolitik.

IMF menyoroti adanya pergeseran perdagangan global, di mana negara-negara mulai mencari mitra baru untuk mengurangi ketergantungan pada satu kawasan tertentu. Kondisi ini membuka peluang bagi Indonesia untuk menarik investasi dan meningkatkan ekspor manufaktur.

Selain itu, pertumbuhan sektor teknologi global juga menjadi peluang besar. Indonesia dapat memanfaatkan momentum ini untuk memperkuat industri digital, hilirisasi sumber daya alam, serta meningkatkan nilai tambah produk dalam negeri.

Dengan pasar domestik yang besar dan pertumbuhan konsumsi yang kuat, Indonesia juga memiliki daya tarik tersendiri bagi investor global yang mencari stabilitas di tengah ketidakpastian dunia.

Tantangan yang Perlu Diantisipasi

Meski peluang terbuka lebar, IMF mengingatkan bahwa Indonesia tetap menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya adalah tekanan dari kenaikan harga energi dan pangan akibat konflik global.

Harga energi diproyeksikan naik signifikan pada 2026, yang berpotensi meningkatkan inflasi dan menekan daya beli masyarakat.

Selain itu, ketergantungan terhadap impor energi membuat Indonesia rentan terhadap fluktuasi harga global. Tekanan terhadap nilai tukar rupiah juga menjadi risiko yang perlu diantisipasi.

IMF menilai, untuk benar-benar memanfaatkan peluang sebagai bagian dari pusat pertumbuhan Asia, Indonesia perlu memperkuat reformasi struktural, meningkatkan daya saing industri, serta menjaga stabilitas ekonomi makro.

Dengan strategi yang tepat, Indonesia tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga pemain utama dalam peta ekonomi global yang baru.

Read Entire Article
Bisnis | Football |