Harga Minyak Stabil, Iran Klaim Capai Kesepakatan dengan Oman

5 hours ago 7

Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak mentah bergerak terbatas pada perdagangan Rabu setelah Garda Revolusi Iran menyatakan Teheran telah mencapai kesepakatan dengan Oman untuk berbagi pendapatan dari Selat Hormuz.

Juru bicara Garda Revolusi Iran mengatakan kepada kantor berita pemerintah Tasnim bahwa Iran dan Oman telah sepakat berbagi pendapatan yang dihasilkan dari Selat Hormuz.

Juru bicara tersebut tidak menyebutkan adanya tarif yang harus dibayarkan kapal untuk melintasi selat. Namun, kesepakatan mengenai pembagian pendapatan mengindikasikan bahwa Teheran kemungkinan akan memberlakukan semacam biaya transit.

Mengutip CNBC, Kamis (27/8/2026), Harga minyak mentah Brent, yang menjadi patokan internasional, turun 74 sen menjadi US$ 87,84 per barel pada penutupan perdagangan.

Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun 13 sen menjadi US$ 82,23 per barel.

Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi mengatakan, berdasarkan kesepakatan tersebut, kapal akan memasuki Teluk Persia melalui perairan Iran.

Kapal kemudian akan keluar melalui koridor bersama yang melintasi perairan teritorial Oman dan Iran, kata Gharibabadi seperti dikutip Tasnim.

AS Belum Tentu Setujui

Kepala Strategi Komoditas Global RBC Capital Markets Helima Croft menilai masih belum jelas apakah Amerika Serikat akan menyetujui pengelolaan Selat Hormuz secara bersama oleh Iran.

Croft juga menilai negara-negara Teluk yang telah diserang Iran selama perang tidak akan bersedia membayar Teheran untuk mengirim minyak melalui selat tersebut.

“Tidak jelas apakah AS akan menyetujui Iran mengelola Hormuz secara bersama,” kata Croft.

“Dan negara-negara Teluk yang telah diserang Iran selama perang tidak akan membayar Teheran untuk mengirim minyak melalui selat tersebut,” lanjutnya kepada CNBC.

Sebelumnya, harga minyak sempat anjlok lebih dari 3% dalam perdagangan Rabu. Penurunan terjadi setelah Amerika Serikat memilih menggunakan tekanan ekonomi terhadap Iran ketimbang melancarkan serangan militer.

Langkah tersebut untuk sementara meredakan kekhawatiran bahwa AS dan Iran akan kembali terlibat dalam konflik bersenjata.

Secara mingguan, harga minyak telah turun lebih dari 5%.

Iran Minta AS Terima Kesepakatan agar Selat Hormuz Dibuka

Garda Revolusi Iran menyatakan Amerika Serikat telah berupaya menghalangi kesepakatan antara Iran dan Oman.

Juru bicara Garda Revolusi menegaskan bahwa Amerika Serikat harus menerima kesepakatan tersebut agar Selat Hormuz dapat dibuka kembali.

Pernyataan itu disampaikan sehari setelah Menteri Luar Negeri Iran dan Oman bertemu di Teheran. Pertemuan tersebut membahas rencana pembukaan sementara jalur pelayaran bersama melalui Selat Hormuz.

Iran dan Oman dipisahkan oleh Selat Hormuz. Di titik tersempitnya, jalur perairan strategis tersebut hanya memiliki lebar sekitar 21 mil atau 34 kilometer.

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran paling penting bagi perdagangan energi dunia. Karena itu, gangguan terhadap aktivitas pelayaran di kawasan tersebut berpotensi memberikan dampak besar terhadap pasokan dan harga minyak global.

Trump Pernah Ancam Oman

Ketegangan mengenai Selat Hormuz juga melibatkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Awal bulan ini, Trump mengancam akan mengebom Oman ketika ditanya Fox News mengenai negosiasi Muscat dengan Teheran terkait Selat Hormuz.

Namun, pada Rabu, Trump menyatakan aktivitas di Selat Hormuz tetap berjalan.

Trump mengatakan sekitar 10 juta barel minyak telah keluar dari selat tersebut pada Selasa.

“Banyak minyak yang mengalir keluar,” kata Trump kepada tokoh sayap kanan Glenn Beck dalam sebuah wawancara.

Trump berulang kali menyatakan bahwa Amerika Serikat mengendalikan Selat Hormuz. Militer AS disebut membantu mengawal kapal-kapal tanker melewati selat tersebut di sepanjang pesisir Oman.

Pernyataan Trump tersebut menjadi bagian dari perkembangan terbaru terkait upaya AS menjaga kelancaran lalu lintas kapal tanker di jalur strategis tersebut.

Ratusan Juta Barel Minyak Keluar dari Hormuz

Komando Pusat Amerika Serikat atau U.S. Central Command (CENTCOM) sebelumnya menyampaikan kepada CNBC bahwa sekitar 660 juta barel minyak mentah telah keluar dari Selat Hormuz sejak Mei dengan berada di bawah perlindungan militer AS.

Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya Selat Hormuz bagi perdagangan energi global sekaligus menjadi salah satu titik rawan dalam konflik antara Iran dan Amerika Serikat.

Selat Hormuz menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab. Jalur ini menjadi rute penting bagi pengiriman minyak dari sejumlah negara produsen minyak di kawasan Teluk ke pasar global.

Setiap perkembangan yang berpotensi mengganggu pelayaran di Selat Hormuz dapat memengaruhi sentimen pasar dan harga minyak.

Karena itu, pasar kini mencermati perkembangan kesepakatan Iran dan Oman, sikap pemerintah AS, serta potensi penerapan biaya transit di Selat Hormuz.

Di tengah ketidakpastian geopolitik tersebut, harga minyak pada perdagangan Rabu masih bergerak terbatas setelah sebelumnya sempat mengalami tekanan lebih dari 3%.

Investor juga terus memantau apakah kesepakatan Iran dan Oman benar-benar dapat diterapkan serta apakah jalur pelayaran di Selat Hormuz dapat kembali beroperasi secara normal.

Jika ketegangan mereda dan arus pelayaran kembali lancar, tekanan terhadap harga minyak berpotensi berlanjut. Sebaliknya, gangguan baru di jalur strategis tersebut dapat kembali meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan minyak dunia.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Read Entire Article
Bisnis | Football |