Harga Emas Pegadaian Selasa 7 April 2026: Antam, UBS, dan Galeri24 Kompak Turun!

20 hours ago 15

Liputan6.com, Jakarta - Harga emas yang dijual oleh PT Pegadaian (Persero) pada Selasa ini kompak turun. Penurunan harga emas pegadaian terjadi untuk jenis emas UBS, emas Antam, dan emas Galeri24

Dikutip dari laman Sahabat Pegadaian, Selasa (7/4/2026), harga emas UBS turun menjadi Rp 2.874.000 per gram dari sebelumnya Rp 2.885.000 per gram.

Sedangkan untuk jenis emas Antam turun menjadi Rp 2.945.000 per gram dari sebelumnya Rp 2.972.000 per gram.

Untuk emas Galeri24 juga turun menjadi Rp 2.860.000 per gram dari sebelumnya Rp 2.870.000 per gram.

Harga emas di Pegadaian sewaktu-waktu bisa berubah.

Untuk Galeri24 dijual dengan kuantitas 0,5 gram hingga 1.000 gram atau 1 kilogram, emas UBS dijual dengan kuantitas 0,5 gram hingga 500 gram.

Sementara harga emas Antam di Sahabat Pegadaian hanya ditampilkan dari 0,5 hingga 100 gram.

Daftar Lengkap Harga Emas Pegadaian

Galeri24

  • 0,5 gram: Rp 1.500.000
  • 1 gram: Rp 2.860.000.
  • 2 gram: Rp 5.650.000‎
  • 5 gram: Rp 14.022.000
  • ‎10 gram: Rp 27.970.000
  • ‎25 gram: Rp 69.549.000
  • ‎50 gram: Rp 138.986.000
  • ‎100 gram: Rp 277.836.000‎
  • 250 gram: Rp 692.883.000
  • ‎500 gram: Rp 1.385.766.000‎
  • 1.000 gram: Rp 2.771.531.000

Antam

  • 0,5 gram: Rp 1.525.000
  • ‎1 gram: Rp 2.945.000
  • ‎2 gram: Rp 5.827.000
  • 3 gram: Rp 8.714.000‎
  • 5 gram: Rp 14.488.000
  • 10 gram: Rp 28.918.000
  • ‎25 gram: Rp 72.163.000
  • ‎50 gram: Rp 144.243.000‎
  • 100 gram: Rp 288.405.000

UBS

  • 0,5 gram: Rp 1.553.000
  • ‎1 gram: Rp 2.874.000‎
  • 2 gram: Rp 5.703.000‎
  • 5 gram: Rp 14.090.000
  • 10 gram: Rp 28.033.000‎
  • 25 gram: Rp 69.944.000‎
  • 50 gram: Rp 139.600.000‎
  • 100 gram: Rp 279.091.000
  • 250 gram: Rp 697.521.000‎
  • 500 gram: Rp 1.393.404.000.

Harga Emas Turun Tipis, Investor Pilih Wait and See

Harga emas dunia bergerak melemah pada perdagangan awal pekan, seiring investor menanti perkembangan terbaru perang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Penurunan ini terjadi menjelang tenggat waktu yang ditetapkan Presiden AS Donald Trump terkait pembukaan kembali Selat Hormuz yang merupakan jalur vital perdagangan minyak global.

Mengutip CNBC, Selasa (77/4/2026), harga emas spot tercatat turun 0,4% menjadi USD 4.654,99 per ounce pada pukul 13.31 waktu New York. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS justru ditutup naik tipis 0,1% ke level USD 4.684,70.

Pemerintah Iran menyatakan menginginkan akhir permanen dari konflik dengan AS dan Israel. Namun, Iran menolak tekanan untuk segera membuka kembali Selat Hormuz dalam kerangka gencatan senjata sementara.

Di sisi lain, Presiden Donald Trump mengeluarkan peringatan keras. Ia mengancam akan “menurunkan neraka” ke Teheran jika tidak tercapai kesepakatan hingga batas waktu yang ditentukan pada Selasa.

Ketidakpastian ini membuat pelaku pasar cenderung menahan diri (Wait and See), sambil memantau arah konflik yang telah berlangsung selama lima pekan tersebut. 

Tekanan Suku Bunga dan Lonjakan Minyak Membayangi Emas

Analis menilai pergerakan harga emas saat ini tidak hanya dipengaruhi faktor geopolitik, tetapi juga kebijakan suku bunga global.

Kepala strategi komoditas global TD Securities, Bart Melek, mengatakan perhatian pasar akan tetap tertuju pada konflik dan arah suku bunga.

“Fokus kemungkinan tetap pada perang dan suku bunga. Jika konflik berlarut, harga minyak akan terus naik akibat pasokan yang semakin ketat, sehingga mendorong tekanan inflasi,” ujarnya.

Kenaikan harga energi tersebut berpotensi membatasi ruang bank sentral, terutama Federal Reserve, untuk melonggarkan kebijakan moneternya.

Bahkan, kondisi ini bisa memicu kembali wacana kenaikan suku bunga jika harga energi terus melonjak—yang menjadi sentimen negatif bagi emas.

Sebagai aset lindung nilai terhadap risiko geopolitik dan inflasi, emas biasanya diminati saat ketidakpastian meningkat. Namun, karena tidak memberikan imbal hasil bunga, emas menjadi kurang menarik ketika suku bunga tinggi.

Menanti Data Ekonomi

Sementara itu, investor juga menanti sejumlah data ekonomi penting Amerika Serikat, mulai dari risalah rapat kebijakan The Fed, data Personal Consumption Expenditures (PCE), hingga indeks harga konsumen (CPI).

Bank sentral AS diketahui menahan suku bunga bulan lalu, dan mayoritas pelaku pasar kini memperkirakan tidak ada pemangkasan suku bunga sepanjang tahun ini.

Read Entire Article
Bisnis | Football |