Blok Masela Punya Siapa? Ini Profil Proyek Gas Raksasa di Maluku

15 hours ago 10

Liputan6.com, Jakarta - Groundbreaking Proyek LNG Abadi Blok Masela oleh Presiden Prabowo Subianto kembali mengundang perhatian publik. Selain menjadi salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN), Blok Masela juga disebut sebagai salah satu proyek gas alam cair (LNG) terbesar di Asia.

Lantas, sebenarnya Blok Masela merupakan proyek apa dan siapa yang mengelolanya?

Blok Masela merupakan proyek pengembangan Lapangan Gas Abadi yang berada di Laut Arafura, Maluku. Proyek ini dikembangkan untuk memproduksi gas alam yang kemudian diolah menjadi gas alam cair (Liquefied Natural Gas/LNG), kondensat, serta gas pipa untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negeri.

Menurut operator proyek, Inpex Masela Ltd, dikutip dari laman resmi inpex.com, Kamis (16/7/2026), fasilitas LNG tersebut dirancang mampu memproduksi sekitar 9,5 juta ton LNG per tahun.

Selain LNG, proyek ini juga ditargetkan menghasilkan kondensat hingga 35.000 barel per hari dan memasok gas pipa sekitar 150 juta kaki kubik per hari (MMscfd) untuk kebutuhan domestik.

Konsorsium Tiga Perusahaan

Meski berada di wilayah Indonesia, Blok Masela tidak dimiliki oleh satu perusahaan saja. Pengembangannya dilakukan melalui skema Production Sharing Contract (PSC) atau kontrak bagi hasil yang lazim digunakan pada industri hulu migas di Indonesia.

Dalam skema tersebut, pemerintah tetap menjadi pemilik sumber daya migas. Sementara perusahaan bertindak sebagai kontraktor yang menanggung biaya eksplorasi dan pengembangan, kemudian memperoleh pengembalian investasi (cost recovery) dan pembagian hasil produksi sesuai ketentuan kontrak.

Saat ini pengelolaan Blok Masela dilakukan oleh konsorsium tiga perusahaan.

Operator proyek adalah Inpex Masela Ltd asal Jepang dengan hak partisipasi sebesar 65%.

Sementara itu, Pertamina memiliki kepemilikan 20%, sedangkan perusahaan energi nasional Malaysia, Petronas, menguasai 15%.

Pertamina dan Petronas resmi bergabung sebagai mitra proyek pada Oktober 2023.

Rendah Emisi

Selain berukuran sangat besar, Blok Masela juga menjadi salah satu proyek LNG yang mengusung konsep rendah emisi.

Inpex memasukkan teknologi Carbon Capture and Storage (CCS) dalam revisi rencana pengembangannya. Teknologi tersebut dirancang untuk menangkap dan menyimpan emisi karbon dioksida (CO₂) yang dihasilkan selama proses produksi gas.

Perusahaan menyebut proyek ini berpotensi menjadi proyek LNG pertama yang mulai mengoperasikan CCS sejak awal produksi.

Saat ini proyek telah memasuki tahap Front End Engineering and Design (FEED) sebagai bagian dari persiapan menuju Final Investment Decision (FID).

Dengan kapasitas produksi mencapai 9,5 juta ton LNG per tahun, Blok Masela diharapkan menjadi salah satu penopang ketahanan energi Indonesia sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pemasok LNG utama di kawasan Asia.

Selain memenuhi kebutuhan domestik, produksi LNG dari proyek ini juga ditargetkan memasok pasar Asia Timur, Asia Tenggara, hingga Asia Selatan yang permintaan gas alamnya diperkirakan terus meningkat.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Read Entire Article
Bisnis | Football |