Bapanas Tegaskan Beras Premium Tidak Langka

9 hours ago 8

Liputan6.com, Jakarta - Badan Pangan Nasional (Bapanas) memastikan tidak ada kelangkaan beras premium di pasaran dan menjamin beras produksi BUMN masih tersedia secara aman, meskipun diakui sempat terjadi kekosongan di beberapa ritel modern.

Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, memastikan pasokan beras premium akan terus disalurkan, termasuk ke lini ritel modern. Meski mengakui ada sedikit penyesuaian harga, menurutnya pergerakan tersebut masih berada tak jauh dari Harga Eceran Tertinggi (HET).

"Sebenarnya tidak langka. Kalau dibilang langka, tidak. Kami juga turun bersama tim, memang ada beberapa ritel yang kosong, tetapi sebagian besar masih ada. Beras Bulog masih tersedia, begitu pula beras premium dengan berbagai merek, termasuk dari ID Food seperti Rania dan lain sebagainya," kata Ketut dalam keterangan resminya, Sabtu (25/7/2026).

Berdasarkan catatan Bapanas per 24 Juli 2026, rata-rata harga beras premium secara nasional berada di angka Rp 15.966 per kilogram (kg). Namun, level tersebut merupakan angka rata-rata dari keseluruhan tiga zonasi HET beras premium di Indonesia.

Harga di Berbagai Daerah

Sebagai gambaran, pada Zona I (Jawa, Lampung, Sumatera Selatan, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Sulawesi), rata-rata harga beras premium hanya sedikit melebihi HET. Per 24 Juli 2026, harganya tercatat Rp 15.224 per kg atau hanya selisih 2,17 persen di atas HET yang ditetapkan sebesar Rp 14.900 per kg.

"Kalau dilihat dari harga, relatif stabil walau ada sedikit penyesuaian. Untuk konsumen menengah ke atas naik sedikit, ini memberikan semacam subsidi silang," kata Ketut.

"Kelompok menengah ke atas mengeluarkan sedikit lebih banyak, sementara masyarakat menengah ke bawah yang paling memerlukan tentu terus disokong oleh intervensi dan bantuan pemerintah. Jadi kondisi ini sebenarnya seimbang," sambungnya.

Kondisi Baik untuk Petani di Hulu

Ketut menerangkan bahwa kenaikan harga beras di tingkat hilir pada dasarnya memberikan ruang keuntungan yang wajar bagi petani sebagai produsen di hulu. Oleh karena itu, ia mengajak publik untuk tidak hanya melihat dinamika perberasan dari sudut pandang konsumen saja.

"Kita jangan hanya melihat di hilir, tetapi harus melihat kondisi di hulu. Arahan Presiden Prabowo Subianto adalah mewujudkan swasembada. Jika ingin swasembada, tentu petani kita harus berada dalam posisi yang nyaman untuk terus berproduksi," tegas Ketut.

"Jika kita swasembada, masyarakat tentu menjadi lebih tenang dan makmur. Jangan sampai kejadian seperti peternak ayam petelur terulang, di mana harga sempat anjlok ke Rp 16.000 dari yang seharusnya Rp 24.000. Petani dan peternak kita harus terus dijaga tingkat harganya," pungkasnya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Read Entire Article
Bisnis | Football |