Selat Hormuz Ditutup, AS Minta Kapal Berbendera Amerika Hindari Area Konflik

19 hours ago 14

Liputan6.com, Jakarta - Departemen Transportasi Amerika Serikat (AS) melalui Maritime Administration pada Sabtu mengimbau kapal komersial berbendera AS untuk menjauhi Selat Hormuz dan perairan di sekitarnya. Imbauan ini disampaikan menyusul dimulainya eskalasi militer signifikan di kawasan Timur Tengah.

Melansir kantor berita Anadolu Minggu (1/3/2026), dalam peringatan maritim yang dirilis, disebutkan bahwa operasi militer telah dimulai sejak 28 Februari di Selat Hormuz, Teluk Persia, Teluk Oman, serta Laut Arab. Pemerintah AS juga memperingatkan adanya potensi serangan balasan dari pasukan Iran.

“Disarankan agar kapal menjauhi wilayah ini jika memungkinkan,” demikian bunyi imbauan tersebut.

Pemerintah AS juga menegaskan bahwa setiap kapal komersial berbendera, dimiliki, atau diawaki warga AS yang beroperasi di kawasan itu harus menjaga jarak minimal 30 mil laut dari kapal militer Amerika Serikat guna mengurangi risiko salah identifikasi sebagai ancaman.

Peringatan tersebut berlaku hingga 7 Maret.

Selain itu, kapal-kapal juga didorong untuk tetap berkoordinasi secara intensif dengan Naval Forces Central Command melalui Naval Coordination and Guidance for Shipping, serta memantau pembaruan dari UK Maritime Trade Operations dan Joint Maritime Information Center.

Mitigasi Risiko

Para pelaut juga diminta menerapkan langkah mitigasi risiko sebagaimana diatur dalam US Maritime Advisory 2026-001, yang menyoroti potensi insiden seperti pemeriksaan paksa, penahanan, atau penyitaan kapal oleh Iran di Selat Hormuz dan Teluk Oman.

Imbauan ini muncul setelah Israel dan Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap Iran pada Sabtu dini hari dengan alasan adanya ancaman dari “rezim Iran”.

Serangan tersebut terjadi di tengah perundingan antara Washington dan Teheran terkait program nuklir Iran yang dimediasi Oman. Putaran terbaru pembicaraan di Jenewa berakhir pada Kamis lalu.

Sebelumnya, Israel juga tercatat memulai perang selama 12 hari terhadap Iran pada Juni tahun lalu, yang kemudian diikuti keterlibatan Amerika Serikat dengan pengeboman terhadap tiga fasilitas nuklir Iran.

Iran Bergerak Tutup Selat Hormuz Usai Serangan AS dan Israel

Sebelumnya, Iran dilaporkan mengambil langkah untuk menutup Selat Hormuz menyusul serangan rudal yang dilakukan Amerika Serikat (AS) dan Israel pada Sabtu. Kapal-kapal di kawasan Teluk sudah menerima siaran radio frekuensi tinggi dari Garda Revolusi Iran yang memperingatkan bahwa kapal tidak akan diizinkan melintasi jalur perairan strategis tersebut.

Dikutip dari Gulfnews, Sabtu (28/2/2026), Selat Hormuz yang terletak di Teluk Arab merupakan jalur pelayaran vital bagi sekutu Amerika Serikat dan pasar energi global. Ketegangan di kawasan ini meningkat tajam setelah serangan militer terhadap Iran.

Iran berada di sisi utara Selat Hormuz dan mengendalikan sejumlah titik akses utama menuju jalur tersebut. Posisi geografis ini memberi Teheran pengaruh besar terhadap lalu lintas energi dunia, termasuk ekspor minyaknya sendiri.

Sekitar 20 persen konsumsi minyak dunia melewati Selat Hormuz. Angka tersebut menjadikan jalur ini sebagai salah satu arteri paling penting dalam perdagangan energi global.

Langkah Iran untuk membatasi atau menutup akses Selat Hormuz berpotensi memicu gejolak besar di pasar minyak dan meningkatkan risiko gangguan pasokan energi dunia. 

Read Entire Article
Bisnis | Football |