Menteri Perang AS Klaim Mojtaba Khamenei Terluka dan Cacat

5 hours ago 6

Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth mengklaim pemimpin tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, mengalami luka dan kemungkinan mengalami cacat fisik setelah hampir dua pekan serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.

Pernyataan tersebut disampaikan Hegseth pada Jumat (13/3) saat konferensi pers di Washington.

"Kami tahu pemimpin baru yang disebut-sebut sebagai pemimpin tertinggi itu terluka dan kemungkinan cacat. Ia merilis pernyataan kemarin. Sebenarnya pernyataan yang lemah, dan tidak ada suara maupun video. Itu hanya pernyataan tertulis," kata Hegseth.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Melansir Reuters, serangan Israel pada awal perang yang menewaskan banyak anggota keluarganya, termasuk ayahnya, Ali Khamenei, dan istrinya, tidak ada gambar terbaru Mojtaba Khamenei yang dirilis ke publik.

Pernyataan pertamanya sejak konflik meningkat disampaikan melalui teks yang dibacakan oleh pembawa acara televisi pada Kamis (12/3).

Dalam pernyataan tersebut, Mojtaba berjanji akan mempertahankan penutupan Strait of Hormuz serta meminta negara-negara tetangga menutup pangkalan militer Amerika Serikat di wilayah mereka atau menghadapi risiko serangan dari Iran.

Hegseth mempertanyakan alasan Khamenei hanya menyampaikan pernyataan tertulis tanpa tampil langsung.

"Iran punya banyak kamera dan banyak alat perekam suara. Mengapa hanya pernyataan tertulis? Saya rasa Anda tahu alasannya. Ayahnya sudah meninggal. Dia ketakutan, terluka, sedang melarikan diri, dan tidak memiliki legitimasi," ujarnya.

Pemerintah Iran sebelumnya mengakui pemimpin barunya mengalami luka. Namun seorang pejabat Iran mengatakan kepada Reuters bahwa luka tersebut tergolong ringan.

Duta Besar Iran untuk Jepang Peyman Saadat juga membantah klaim bahwa Mojtaba tidak mampu memimpin.

"Yang kami ketahui adalah ia mengalami luka akibat perang saat pemimpin tertinggi kami dibunuh," kata Saadat dalam wawancara dengan Asahi TV.

"Namun tidak sampai menghalangi (Mojtaba Khamenei) untuk menjalankan tugasnya. Ia adalah pemimpin yang berfungsi. Tidak ada yang terganggu, untungnya. Itulah sebabnya mereka memilih pemimpin saat ini," lanjutnya.

Dalam kesempatan yang sama, Hegseth bersama Ketua Kepala Staf Gabungan militer AS Dan Caine menegaskan operasi militer Amerika Serikat bertujuan melumpuhkan kemampuan rudal, drone, dan kekuatan angkatan laut Iran.

Hegseth juga menegaskan Washington tidak akan menunjukkan belas kasihan dalam konflik tersebut.

"Kami akan terus menekan, terus mendorong, terus maju. Tidak ada ampun, tidak ada belas kasihan bagi musuh kami," ujarnya.

Militer AS dilaporkan telah menyerang lebih dari 6.000 target di Iran dalam 14 hari terakhir. Hampir dua pekan serangan udara Amerika Serikat dan Israel dilaporkan menewaskan sekitar 2.000 orang di Iran.

Sementara itu, Pentagon juga mengirim tambahan kekuatan militer ke kawasan tersebut, termasuk kapal serbu amfibi USS Tripoli (LHA-7) beserta unit ekspedisi Marinirnya. Secara total sekitar 2.500 marinir tambahan akan dikerahkan ke wilayah tersebut.

Di tengah eskalasi konflik, laporan juga menyebutkan drone Iran terdeteksi memasuki wilayah Kuwait, Irak, Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Oman.

Selain itu, enam personel militer AS dilaporkan tewas pada Jumat (13/3) setelah pesawat pengisian bahan bakar militer Amerika Serikat jatuh di Irak barat dalam insiden yang melibatkan pesawat lain.

Sejak Amerika Serikat dan Israel memulai serangan terhadap Iran pada 28 Februari lalu, total 11 tentara AS dilaporkan tewas.

(lau/bac)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Bisnis | Football |