Konflik AS-Iran: Simak Prediksi Lonjakan Drastis Oil Price Global

21 hours ago 13

Liputan6.com, Jakarta - Serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran memicu kekhawatiran serius terhadap stabilitas pasokan energi dunia. Konflik AS-Iran ini dinilai berpotensi mendorong lonjakan drastis oil price global, bahkan memicu resesi ekonomi dalam skenario terburuk.

Iran merupakan produsen minyak terbesar keempat di OPEC dengan produksi lebih dari 3 juta barel per hari. Negara tersebut juga memiliki garis pantai di Selat Hormuz, jalur pelayaran terpenting dalam perdagangan minyak global.

Selama ini pasar dinilai cenderung mengabaikan risiko gangguan pasokan di Timur Tengah. Namun, mantan penasihat energi Gedung Putih era Presiden George W. Bush, Bob McNally, menilai pasar meremehkan ancaman balasan Iran.

“Ini benar-benar serius,” kata McNally dikutip dari CNBC, Minggu (1/3/2026).

Ia memperkirakan harga kontrak berjangka minyak mentah bisa naik USD 5 hingga USD 7 per barel saat perdagangan dibuka, karena pasar mulai memperhitungkan risiko geopolitik.

Pada perdagangan terakhir, minyak Brent ditutup di USD 72,48 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) berada di USD 67,02 per barel.

Selat Hormuz Bisa Picu Lonjakan Harga di Atas USD 100

Menurut McNally, Iran dapat meningkatkan tekanan dengan membuat Selat Hormuz tidak aman bagi kapal komersial. Jika jalur tersebut terganggu, oil price global berpotensi melonjak di atas USD 100 per barel.

Data Kpler menunjukkan lebih dari 14 juta barel minyak per hari melewati Selat Hormuz pada 2025, setara sekitar sepertiga ekspor minyak mentah dunia melalui laut. Sekitar 75% pengiriman itu menuju China, India, Jepang, dan Korea Selatan.

“Penutupan Selat Hormuz dalam waktu lama akan menjamin terjadinya resesi global,” tegas McNally.

Ia juga menyoroti bahwa Iran memiliki cadangan ranjau dan rudal jarak pendek yang dapat mengganggu lalu lintas kapal secara serius.

Selain minyak mentah, sekitar 20% ekspor gas alam cair (LNG) dunia—terutama dari Qatar—juga melewati jalur tersebut. Jika ditutup, pasokan energi global akan sulit digantikan.

Ancaman Resesi dan Opsi Cadangan Minyak AS

Analis Kpler, Matt Smith, menyebut lebih dari 20 juta barel minyak telah dimuat untuk ekspor dari negara-negara Teluk seperti Arab Saudi, Irak, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Qatar. Namun, beberapa kapal tanker dilaporkan mulai mengalihkan rute untuk menghindari Selat Hormuz.

McNally memperingatkan potensi aksi penimbunan energi oleh negara-negara Asia jika jalur tersebut ditutup.

“Yang akan terjadi adalah penimbunan besar-besaran, terutama oleh negara-negara Asia yang merupakan importir utama minyak dan gas ketika mereka menyadari bahwa Hormuz ditutup,” ujarnya.“Anda akan melihat perang penawaran terbesar sepanjang sejarah.”

Sementara itu, Kevin Book dari ClearView Energy Partners menyebut pemerintah AS dapat memanfaatkan Strategic Petroleum Reserve (SPR) yang saat ini menyimpan sekitar 415 juta barel minyak.

“Namun kami tegaskan lagi: dalam krisis pasokan, durasi sangat penting. Skala juga penting,” tulisnya.“Krisis penuh di Hormuz bisa melampaui kompensasi yang diberikan oleh cadangan strategis AS dan negara-negara anggota IEA.”

Jika gangguan berlangsung lama dan dalam skala besar, lonjakan oil price global dikhawatirkan tidak hanya mengguncang pasar energi, tetapi juga memperbesar risiko perlambatan ekonomi dunia.

Read Entire Article
Bisnis | Football |