Harga Minyak Turun Setelah Iran Serang Kuwait

4 hours ago 8

Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak dunia tidak banyak berubah pada perdagangan Kamis, 3 September 2026 (Jumat pagi Jakarta). Harga minyak dunia bervariasi ini di tengah berlanjutnya serangan Iran terhadap sekutu Amerika Serikat (AS) di kawasan Teluk, di mana Kuwait mencegat rudal dan pesawat nirawak (drone) yang masuk.

Mengutip CNBC, Jumat, (4/9/2026), harga minyak Brent turun 11 sen dan ditutup ke level US$ 95,52 per barel. Harga minyak acuan ini sempat menembus US$ 97 pada sesi perdagangan sebelumnya. Sementara itu, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) AS naik 29 sen dan menetap di posisi US$ 91,30 per barel.

Angkatan bersenjata Kuwait menyatakan pada Kamis, 3 September 2026, negara tersebut sedang menghadapi "agresi Iran yang berkelanjutan" saat sistem pertahanan udara mereka berupaya mencegat rudal dan drone, menurut laporan *Kuwait Times*.

Harga minyak AS telah naik lebih dari 9% pekan ini seiring aksi saling serang militer antara Washington dan Teheran untuk pertama kalinya sejak Juli. Washington berupaya melemahkan kemampuan Teheran dalam menyerang kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz.

Menteri Energi Chris Wright mengatakan kepada CNBC pada Rabu pekan ini lebih dari 17 juta barel minyak melintasi Selat Hormuz pada Senin, sebuah rekor volume masa perang di bawah perlindungan militer AS. Sebagai perbandingan, sekitar 20 juta barel minyak mentah dan produk minyak per hari melintasi selat tersebut sebelum perang dimulai pada 28 Februari.

Presiden Donald Trump mengisyaratkan pada Rabu, ia tidak memperkirakan eskalasi permusuhan saat ini akan berujung pada kembali pecahnya perang.

"Saya rasa ini tidak akan berlangsung lebih lama lagi," ujar Trump mengenai pertempuran tersebut.

"Saya tidak tahu seberapa kuat lagi mereka bisa menahannya,” ia menambahkan.

Harga Minyak Dunia Hampir Sentuh US$ 100, Konflik AS-Iran Memanas

Sebelumnya, harga minyak dunia naik pada perdagangan Rabu setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali saling melancarkan serangan militer. Kondisi ini mengakhiri periode relatif tenang di Timur Tengah dan meningkatkan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan minyak melalui Selat Hormuz.

Mengutip CNBC, Kamis (3/9/2026), harga minyak mentah Brent, yang menjadi acuan internasional, naik sekitar 1% dan ditutup pada US$ 95,63 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat hampir 1% menjadi US$ 91,01 per barel.

Menurut pernyataan Komando Pusat AS (CENTCOM), militer AS pada Selasa telah menyelesaikan serangkaian serangan terhadap Korps Garda Revolusi Islam Iran.

Serangan tersebut menyasar sejumlah fasilitas pertahanan udara, sistem radar, aset maritim, kemampuan peletakan ranjau, serta fasilitas komunikasi.

Sebagai aksi balasan, Garda Revolusi Iran dilaporkan menyerang posisi militer AS di Yordania, Kuwait, Bahrain, Irak, dan Uni Emirat Arab (UEA), menurut media pemerintah Iran.

Pertempuran kembali pecah antara AS dan Iran untuk pertama kalinya sejak Juli, ketika Washington berupaya mengurangi kemampuan Teheran menyerang kapal dan mengganggu lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz.

17 Juta Barel Minyak Lewat Selat Hormuz

Lebih dari 17 juta barel minyak melintasi Selat Hormuz pada Senin. Angka tersebut menjadi yang tertinggi sejak perang dimulai pada akhir Februari.

Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan kepada CNBC bahwa sebelum perang berlangsung, sekitar 20 juta barel minyak mentah dan produk turunannya melintas melalui Selat Hormuz setiap hari.

Selat Hormuz merupakan jalur strategis bagi perdagangan energi global. Karena itu, setiap gangguan terhadap jalur tersebut berpotensi berdampak besar terhadap pasokan dan harga minyak dunia.

Harga minyak AS telah naik sekitar 9% sepanjang pekan ini. Pasar kembali memperhitungkan risiko gangguan terhadap ekspor minyak mentah dari Timur Tengah setelah konflik AS-Iran memanas.

Di tengah eskalasi tersebut, Presiden AS Donald Trump mengindikasikan dirinya tidak tertarik melakukan negosiasi dengan Iran.

Pemerintah AS justru mengubah pendekatan menjadi tekanan ekonomi terhadap Teheran melalui blokade laut dan perluasan kampanye sanksi.

Perkembangan tersebut membuat pasar minyak kembali memasukkan faktor geopolitik sebagai salah satu risiko utama yang dapat memengaruhi harga dalam waktu dekat.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Read Entire Article
Bisnis | Football |