Declan Rice Terancam Sanksi UEFA Usai Duel Liga Champions Atletico Madrid Vs Arsenal

5 hours ago 12

Liputan6.com, Jakarta - Hasil imbang mewarnai duel panas antara Atletico Madrid dan Arsenal pada leg pertama semifinal Liga Champions 2025/2026. Pertandingan yang digelar di Riyadh Air Metropolitano, Kamis (30/04/2026) dini hari WIB itu berakhir dengan skor 1-1.

Laga berjalan ketat sejak awal dengan kedua tim saling menekan dan menciptakan peluang berbahaya. Namun, bukan hanya skor yang menjadi sorotan, melainkan juga sejumlah keputusan krusial dari wasit.

Atmosfer panas di kandang Atletico turut menambah tensi pertandingan yang sudah tinggi. Sorakan penonton tuan rumah disebut-sebut ikut memengaruhi jalannya laga di momen-momen penting.

Di tengah drama tersebut, muncul kontroversi yang kini berpotensi berbuntut panjang. Gelandang Arsenal, Declan Rice, bahkan terancam sanksi UEFA setelah mengungkapkan pandangannya secara terbuka.

Penalti Eze Dibatalkan, Titik Balik yang Diperdebatkan

Salah satu momen paling disorot dalam pertandingan ini terjadi pada babak kedua, tepatnya menit ke-78. Saat itu, Eberechi Eze terjatuh di dalam kotak penalti usai berduel dengan David Hancko.

Wasit Danny Makkelie awalnya tanpa ragu menunjuk titik putih sebagai tanda penalti untuk Arsenal. Keputusan tersebut sempat memberi harapan bagi tim tamu untuk berbalik unggul.

Namun, situasi berubah setelah sang wasit melakukan peninjauan melalui VAR. Setelah melihat ulang tayangan, keputusan penalti tersebut akhirnya dibatalkan.

Keputusan ini langsung memicu reaksi keras dari kubu Arsenal yang merasa dirugikan. Bahkan Mikel Arteta menyebut momen itu sebagai titik yang "mengubah arah pertandingan dan hasil imbang."

Rice tak Tahan, Kritik Keras Wasit

Declan Rice menjadi salah satu pemain yang paling vokal menanggapi insiden tersebut. Ia secara terbuka mengungkapkan kekecewaannya terhadap keputusan wasit yang dinilainya merugikan tim.

Gelandang timnas Inggris itu menilai ada faktor eksternal yang memengaruhi keputusan penting tersebut. Menurutnya, tekanan dari suporter tuan rumah memainkan peran besar dalam perubahan keputusan.

Rice juga menyinggung perbedaan gaya kepemimpinan wasit di Liga Champions dibanding kompetisi domestik. Ia merasa pemain lebih mudah dihukum di kompetisi Eropa.

Berbicara kepada Stan Sport, via Goal, Rice menjelaskan: "UEFA benar-benar berbeda. Di kedua kotak penalti, Anda harus sangat berhati-hati karena mereka memberikan segalanya. Yang kedua, pada Ebs (Eberechi Eze), jelas merupakan penalti. Saya tidak tahu mengapa itu tidak diberikan. Saya pikir para penggemar memprovokasi keputusan tersebut dan mengubah pikiran wasit."

"Di Liga Champions, wasit sangat cepat mengambil keputusan dan meniup peluit, dan tidak banyak yang bisa Anda lakukan. Saya merasa Anda lebih sering dihukum di kompetisi Eropa," sindirnya.

Read Entire Article
Bisnis | Football |