Bintang Real Madrid di Tengah Badai Kritik

23 hours ago 6

Liputan6.com, Jakarta - Real Madrid saat ini tengah berada dalam periode yang penuh gejolak setelah tersingkir dari Copa del Rey oleh tim divisi dua, gagal lolos otomatis ke babak 16 besar Liga Champions, dan tertinggal dari Barcelona di La Liga.

Di tengah rasa frustrasi kolektif ini, Vinicius Junior muncul sebagai sasaran utama kemarahan para penggemar meskipun ia berstatus sebagai pencetak gol terbanyak kedua klub musim ini.

Statistiknya yang dianggap rendah dibandingkan dengan pencapaian Kylian Mbappe membuat publik menuntut kontribusi yang lebih besar darinya di lapangan.

Situasi semakin memanas karena para pendukung mencari sosok yang bisa disalahkan atas ketidakstabilan tim, dan Vinicius dianggap sebagai pemain yang performanya paling tidak memenuhi ekspektasi tinggi yang dibebankan kepada seorang bintang Real Madrid.

Faktor Vinicius di Cemooh

Ketegangan antara Vinicius dan basis penggemar tidak hanya dipicu oleh urusan teknis di lapangan, tetapi juga oleh perilakunya yang dianggap asing bagi kultur Real Madrid.

Kritik mengalir deras terkait perselisihan publiknya dengan mantan manajer Xabi Alonso serta kurangnya rasa hormat yang ia tunjukkan saat berada di bangku cadangan dalam laga melawan Albacete.

Tindakannya mengubah foto profil media sosial menjadi foto tim nasional Brasil setelah dicemooh di Bernabeu dipandang sebagai provokasi yang menciptakan konflik yang sebenarnya tidak perlu.

Di mata sebagian pengamat, gaya mainnya yang provokatif dan sikapnya yang dianggap arogan membuat para penggemar merasa ia tidak sepenuhnya mewakili esensi klub, sehingga menciptakan volatilitas hubungan yang sangat dibenci oleh atmosfer tradisional stadion Santiago Bernabeu.

Perlawanan Terhadap Rasisme

Aspek lain yang memperkeruh situasi adalah keberanian Vinicius dalam melawan rasisme yang kerap ia alami di berbagai stadion di Spanyol, termasuk insiden yang berujung pada hukuman penjara bagi beberapa pelaku.

"Saya bukan korban rasisme, saya adalah penyiksa para rasis" setelah tiga penggemar Valencia dijatuhi hukuman delapan bulan penjara karena menghinanya pada tahun 2023.

Sebagian penggemar di Bernabeu dan rival memiliki pandangan kolot bahwa seorang pemain seharusnya hanya fokus bermain sepak bola dan tidak perlu melawan ketidakadilan atau diskriminasi secara vokal.

Tuduhan sengaja mendapatkan kartu kuning untuk menghindari laga di markas Valencia semakin memperuncing narasi negatif terhadap dirinya.

Ketidakpastian Kontrak dan Loyalitas yang Dipertanyakan

Faktor krusial yang merusak hubungan Vinicius dengan pendukung Los Blancos adalah penolakannya untuk segera memperbarui kontrak yang sebenarnya sudah disiapkan klub sejak lama.

Ketidakpastian di mata penggemar ini sebagai indikasi bahwa sang pemain tidak sepenuhnya berkomitmen pada proyek jangka panjang klub atau bahkan memiliki keinginan untuk hengkang. Meskipun belakangan ini ia kerap melakukan selebrasi mencium lambang klub dan memberikan pernyataan loyalitas, keraguannya untuk menandatangani perpanjangan kontrak yang dilaporkan karena ketidakpuasan bekerja di bawah Alonso tetap menjadi ganjalan besar.

Dengan kontrak yang akan berakhir pada tahun 2027, masa depannya di Madrid kini bergantung pada apakah ia bersedia bertahan di tempat di mana ia merasa tidak sepenuhnya diinginkan dan terus-menerus menjadi sasaran kritik tajam.

Bursa Transfer Musim Dingin 2026: Ini 5 Pembelian Paling Mahal

Read Entire Article
Bisnis | Football |